Ironi Itu Datangnya Dari…

Foto: Dok. Antara Sumbar

Actually, I ‘m not in my place to tell you guys about what I’m gonna tell to you in this article. But I can’t help it. Sebagian dari diri saya mengatakan, sudah seharusnya saya menulis tentang perihal ini, sehingga orang lain bisa mengerti keadaannya. Yang akan saya ceritakan disini berkaitan dengan buruknya penyediaan sarana pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Dan entah mengapa, saya merasa turut ambil bagian dalam sistem tersebut.

Saya lulusan Teknik Sipil dari Politeknik Negeri Jakarta, tahun 2007 saya lulus, dan beberapa bulan kemudian bekerja di sebuah kontraktor kecil di pinggiran Jakarta. Baru beberapa tahun ini, kantor saya mulai menerima pekerjaan dari pemerintah, istilahnya, pekerjaan dari Pemda. Baru-baru ini kantor saya mendapat pekerjaan dari sebuah departemen untuk memperbaiki ruang kelas yang sudah uzur usianya. Genteng yang masih dari asbes sejak tahun 80an harus diganti dengan genteng tanah liat yang lebih baik mutunya dan tidak berpotensi mengganggu kesehatan para siswa. Kusen jendela dan pintu yang mulai lapuk harus diganti dengan kusen dari Aluminum yang lebih awet dan bebas dari kelapukan. Berikut juga dengan beberapa bagian dari 2 ruang kelas yang harus saya perbaiki.

Continue reading

Advertisements

Obat VS Batu

marble4 Lagi-lagi, dari Kompas.com gue nemuin berita yang, aduh, nggak tau bikin ngakak atau bikin gue sedih. Seorang Ibu asal Jombang mengaku konon menemukan sebuah batu bertuah seperti batu milik Ponari. Di artikel itu, disebutkan si Ibu yang bernama Siti Nur Rohman menemukan batu tersebut ditemukan di selokan depan sebuah Masjid saat mengantar anaknya ke sekolah.

Disebutin di situ, si Ibu Rohman ini lantas memandikan batu pualam pipih itu, dan menggunakannya untuk mengobati giginya yang sudah 4 hari sakit. Dan katanya lagi, sakit gigi ibu itu menghilang gitu aja. Sebelum nemuin batu itu, Bu Rohman ini mendengar ada suara seorang perempuan yang meminta tolong. Begitu ditengok ke asal suara itu, ternyata dari sebuah batu yang terbungkus kain.

Nggak perlu waktu lama sampai ada banyak orang yang datang ke rumahnya diserbu oleh warga masyarakat. Takut terjadi sesuatu, si Ibu ini diungsikan ke Mapolsekta Jombang.

Yah, another cerita miris soal seseorang yang menemukan batu yang bisa menyembuhkan. Gue semakin bingung, kenapa belakangan ini muncul begitu banyak orang-orang yang mampu menyembuhkan dengan Batu Bertuahnya (buat gue, ada 2 aja udah banyak). Udah berapa banyak sih yang bisa benar-benar sembuh? Penyakit macem apa sih yang bisa sembuh?

Buat gue, dengan munculnya begitu banyak hal seperti ini, menunjukkan betapa buruk fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah untuk warga negaranya. Okelah satu orang Ponari yang dianggap dukun cilik sakti yang bisa nyembuhin berbagai macam penyakit. Lalu sekarang ada orang lain lagi yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit juga. Cuma ada dua hal yang bisa gue tarik dari msalah diatas. Satu, orang-orang Indonesia belum cukup cerdas dan berwawasan. Dua, orang-orang Indonesia haus akan pengobatan yang murah dan mudah.

Kalau dicermati, dua hal itu adalah kewajiban dari pemerintah. Masyarakat Indonesia kurang cerdas, ya karena pemerintah Indonesia nggak concern sama pendidikan. Mereka lebih peduli sama hubungan bilateral dan tetek bengek nggak jelas ketimbang mencerdaskan manusia di Indonesia. Buat pemerintah, kesehatan rakyat kecil itu nggak penting. Yang penting orang-orang yang bisa menghasilkan uang untuk mereka negara bisa tetap sehat.

Kalau aja pemerintah bisa menciptakan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang memadai, masyarakat Indonesia nggak akan mudah terbodohi. 64 tahun merdeka, tapi masyarakat Indonesia lebih milih Batu ketimbang Obat. Mau dikemanain negeri kita?