Again, Nuclear Facilities

Makan siang gue tiba-tiba tersela oleh munculnya private message dari seorang teman gue. Setelah basa-basi sebentar soal bagaimana kiranya dia ngajak seorang cewek untuk diajak threesome sama ceweknya, dia lalu ngomentari tulisan gue soal komentar seorang teman gue yang lainnya tentang fasilitas nuklir di Indonesia. Paling nggak itu poin yang dia angkat dari tulisan gue itu.

atomic_logo Perdebatan dimulai dari temen gue ini, sebut aja si T, nentang argumen temen gue si G, soal keharusan Indonesia anti Amerika. Si T bilang, suatu hal yang nggak masuk akal dan irrasional, kalau Indonesia harus melepaskan hubungannya dengan Amerika. Baik secara diplomasi maupun ekonomi. Menurutnya, dengan lepasnya Indonesia dari Amerika, terutama melepaskan diri dari ketergantungan akan BBM (which is fully supported by US Government) adalah hal yang sangat nggak masuk akal.

Menurut Mr. G, pengeluaran terbesar BBM kita adalah untuk pengadaan tenaga listrik. Sedangkan Menurut Mr. T, peneluaran BBM terbesa Indonesia adalah untuk kalangan Industri dan Transportasi. Adalah suatu ketidak mungkinan untuk menghentikan penggunaan BBM untuk bidang transportasi. Keduanya terasa sangat masuk akal buat orang-orang yang awam dan nggak terlalu mahfum dengan hal tersebut. Melihat tingkat kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya, dan kelompok Industri yang memang bergantung dari ketersediaan BBM, masuk akal jika dikatakan penggunaan BBM terbesar adalah untuk 2 hal tersebut. Tapi tak bisa dipungkiri, dengan menurunnya daya yang dihasilkan oleh PLTA di Indonesia, maka PLN membutuhkan dana yang lebih besar dalam penyediaan BBM untuk pembangkit lainnya. Bahkan tahun 2009-2010 ini, PLN berencana meningkatkan konsumsi BBMnya.

Perdebatan gue antara Mr. T terus berjalan sampai membahas tingkat kemampuan orang Indonesia dalam menangani instalasi Nuklir (kalau memang dibangun). Wong nanganin Depo Plumpang aja nggak becus.
Yah, memang miris kalau ingat hal itu. Tapi disatu pihak, dengan berfikir kalau Indonesia belum pantas menginstal sebuah instalasi nuklir di salah satu belahan pulaunya, menunjukan kalau kita itu sangat statis dan mengidolakan kekurangan kita akan belajar tentang sesuatu hal baru.

Disini gue kurang sepakat dengan Mr. T, menurut gue, Indonesia sudah pantas untuk membangun sebuah instalasi nuklir. Dengan jumlah pulau yang sangat banyak. Negara dengan luas yang sangat besar seperti Indonesia sudah layaknya memegang teknologi yang sama dengan negara kaum penjajah pindahan itu. Apa sih susahnya? Bikin satu, pelajari cara ngerawatnya, jaga yang bener dan voila, kita punya sumber energi yang bisa bikin Amerika mikir dua kali untuk ngusik eksistensi Indonesia.

Tapi, lagi, kata Mr. T gimana pun juga nggak gampang untuk membangun instalasi nuklir di Indonesia. Pertimbangan Ekonomi, Sosial, Budaya dan lain-lain. Mr. T tanya ke gue, apakah Indonesia sudah benar-benar siap menerima teknologi “alien” itu? Dan gue jawab, kalau terus-terusan mikir soal semua kekurangan orang Indonesia, Indonesia cuma akan terus terpuruk dan nggak maju-maju.

Yah, itu cuma perdebatan sempit antara dua orang yang sangat awam soal hal-hal yang kita berdua perdebatin. Menurut gue pribadi, Indonesia sangat butuh perubahan dan keluar dari stagnasi yang udah mendarah daging. Dan gue setuju sama Mr. G, lepas dari Amerika adalah langkah yang sangat tepat. Sorry to say Mr. T, for me, you were wrong this time.

 

From: Astronot Bumi
Via: Live Writer

Advertisements

Nuclear Facilities In Indonesia

Okay, kemarin minggu gue main ke rumah salah satu teman gue. Awalnya kita ngomongin masalah bisnis dan kerjaan. Lama kelamaan, karena nggak ada topik lain untuk dibicarain, gue sama temen gue ini ngomongin masalah politik. Yah, nggak jauh-jauh, karena topiknya selalu asik buat dibahas dan nggak ada habisnya.

Yang kita bicarain kali ini adalah tentang siapa yang akan menjadi Presiden berikutnya dan kiranya apa saja yang akan dia lakukan di masa kepemimpinannya. Setelah membahas beberapa tokoh yang unggul di panggung pemilihan Presiden di Indonesia, temen gue lalu menyebutkan satu nama dari partai yang dia dukung sebagia salah satu calon yang cukup berkompeten.

Namanya cukup dikenal, walaupun hanya sebagai seorang Mentri. Beliau adalah Adhyaksa Daud, Menpora yang juga seorang kader PKS. Teman gue bilang, Adhyaksa ini cukup kompeten jika menjadi Presiden. Lantas gue tanya alasannya apa. Dia jawab, “Adhyaksa ini orangnya mirip kaya Mahmoud Ahmadinejad Be. Jadi kalau dia jadi presiden, gue yakin Indonesia bisa jadi kaya Iran. Anti Amerika…”

Sesaat gue mikir. Kepala gue bercabang dua, antara sepakat anti Amerika dan nggak. Melihat kerugian yang akan diderita negara kita kalau kita anti Amerika. Nggak berapa lama lagi temen gue nambahin.
”Amerika itu ngejajah dunia, pake BBM. Mereka kan yang nguasain penjualan minyak di seluruh dunia. Kalau kita berhenti pakai BBM, negara kita nggak akan banyak hutang, soalnya pengeluaran terbanyak negara kita itu untuk BBM…”

Kata temen gue lagi, “Kalau kita berhenti pakai BBM, udah pasti kita jadi musuh Amerika. Nah, pengganti BBM, kita pake Nuklir aja…”
Well, very good idea menurut gue kalau Indonesia bikin Instalasi Nuklir di Indonesia. Mengingat kita krisis energi terus menerus. Kalau kita ngebangun 2 atau 3 instalasi Nuklir di Indonesia bisa menyelesaikan masalah, kenapa nggak?

Nuklir disini bukan buat Bom ya, tapi buat energi listrik. Karena pemakaian BBM terbanyak di Indonesia itu untuk PLN. Kalau kita bisa mengalihkan penggunaan BBM dari PLN ke masyarakat, pemerintah jadi nggak perlu mengalokasikan terlalu banyak biaya untuk energi listrik.

Kata temen gue lagi, bahkan mungkin Iran bakal bersedia menyumbangkan satu buah instalasi ke Indonesia, sebagai sesama penentang Amerika . Tapi itu hanya dan hanya jika kita punya Presiden yang berani ambil keputusan untuk anti Amerika. Karena ini cuma angan-angan, entah bisa kejadian atau nggak. Hehehehe…

 

From: Astronot Bumi
Via: Live Writer