Facebook Yang Mengancam

fb Setiap pagi, rutinitas gue yang sudah sangat jelas begitu sampai di kantor adalah buka lid laptop, pencet tombol power, buka browser Firefox, terus autologin ke Facebook. Di halaman Home, gue ngecek apa ada add new friend request baru lagi. Atau langsung masuk ke halaman profile dan ngecek kalau ada Wall baru lagi. Nggak sampai disitu aja, gue biasanya langsung buka page Battle Station gue yang memang udah gue bookmark. Lanjut lagi ke Mafia Wars yang juga pastinya udah gue bookmark. Kedua game yang gue sebutin itu adalah aplikasi di Facebook yang jadi favorit gue.

Hal-hal diatas yang selalu jadi rutinitas pagi gue. Belum termasuk didalamnya ganti status, bales wall dan message, cari temen-temen lama, masuk ke group dan aktif disana. Bisa dibilang, Facebook udah jadi bagian dari diri gue belakangan ini semenjak gue gabung di situs social network ini.

Gue pikir nggak ada masalah dengan itu semua. Tapi ternyata gue mengalami semacam delusi (sok tau mode on) dan paranoia akut kalau dalam 12 jam gue nggak buka account Facebook gue. Secara nggak sengaja, gue nemuin artikel di internet soal kecanduan social network macam Facebook ini. Banyak orang yang udah kecanduan akut dengan social network macam Facebook dan Myspace.

Dari sebuah artikel yang gue baca di Daily Mail, mengenai sebuah penelitian berkaitan dengan Facebook dan Social Network lain semacamnya. Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa ketergantungan atas Facebook dan sebangsanya akan berakibat pada semakin tingginya kemungkinan seseorang terserang kanker. Berkurangnya interaksi antar sesama di dunia nyata mengakibatkan disfungsi tubuh yang berakhir pada kemungkinan munculnya kanker, stroke dan penyakit hati. Agak nggak masuk akal aja sih kalau pake logika gue.

Tapi kalau dipikir-pikir, pada dasarnya telalu bukanlah hal yang baik. Terlalu sering berada di depan layar komputer bukanlah hal yang baik. Apalagi kalau udah berlebihan seperti yang gue tulis di artikel sebelumnya, harus ekstra hati-hati (sebetulnya sih nyontohin diri sendiri). Yang kalau udah berjauhan dari laptop sama handphone mulai geli-geli basah a.k.a gelisah, panik dan takut kalau ada temen yang nyariin di Facebook tapi nggak bisa kasih respon sama sekali.

Mungkin kelihatannya sepele, cuma duduk dan ngabisin waktu, chat di Facebook dan wall bareng temen-temen. Tapi kalau 12 jam dalam sehari, rasanya udah gawat bin berlebihan (lagi-lagi nyontohin diri sendiri lagi). Sama nilainya kaya kecanduan narkotik dan sebangsanya. Cuma dalam hal yang berbeda.

Jadi buat kalian yang ngerasa kecanduan dengan social network, ada baiknya dikurangi. Mari kita sama-sama mengurangi ketergantungan akan Socila Network!

Advertisements

Obat VS Batu

marble4 Lagi-lagi, dari Kompas.com gue nemuin berita yang, aduh, nggak tau bikin ngakak atau bikin gue sedih. Seorang Ibu asal Jombang mengaku konon menemukan sebuah batu bertuah seperti batu milik Ponari. Di artikel itu, disebutkan si Ibu yang bernama Siti Nur Rohman menemukan batu tersebut ditemukan di selokan depan sebuah Masjid saat mengantar anaknya ke sekolah.

Disebutin di situ, si Ibu Rohman ini lantas memandikan batu pualam pipih itu, dan menggunakannya untuk mengobati giginya yang sudah 4 hari sakit. Dan katanya lagi, sakit gigi ibu itu menghilang gitu aja. Sebelum nemuin batu itu, Bu Rohman ini mendengar ada suara seorang perempuan yang meminta tolong. Begitu ditengok ke asal suara itu, ternyata dari sebuah batu yang terbungkus kain.

Nggak perlu waktu lama sampai ada banyak orang yang datang ke rumahnya diserbu oleh warga masyarakat. Takut terjadi sesuatu, si Ibu ini diungsikan ke Mapolsekta Jombang.

Yah, another cerita miris soal seseorang yang menemukan batu yang bisa menyembuhkan. Gue semakin bingung, kenapa belakangan ini muncul begitu banyak orang-orang yang mampu menyembuhkan dengan Batu Bertuahnya (buat gue, ada 2 aja udah banyak). Udah berapa banyak sih yang bisa benar-benar sembuh? Penyakit macem apa sih yang bisa sembuh?

Buat gue, dengan munculnya begitu banyak hal seperti ini, menunjukkan betapa buruk fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah untuk warga negaranya. Okelah satu orang Ponari yang dianggap dukun cilik sakti yang bisa nyembuhin berbagai macam penyakit. Lalu sekarang ada orang lain lagi yang mengaku bisa menyembuhkan penyakit juga. Cuma ada dua hal yang bisa gue tarik dari msalah diatas. Satu, orang-orang Indonesia belum cukup cerdas dan berwawasan. Dua, orang-orang Indonesia haus akan pengobatan yang murah dan mudah.

Kalau dicermati, dua hal itu adalah kewajiban dari pemerintah. Masyarakat Indonesia kurang cerdas, ya karena pemerintah Indonesia nggak concern sama pendidikan. Mereka lebih peduli sama hubungan bilateral dan tetek bengek nggak jelas ketimbang mencerdaskan manusia di Indonesia. Buat pemerintah, kesehatan rakyat kecil itu nggak penting. Yang penting orang-orang yang bisa menghasilkan uang untuk mereka negara bisa tetap sehat.

Kalau aja pemerintah bisa menciptakan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang memadai, masyarakat Indonesia nggak akan mudah terbodohi. 64 tahun merdeka, tapi masyarakat Indonesia lebih milih Batu ketimbang Obat. Mau dikemanain negeri kita?

Kisah Ponari Dan Kesehatan di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu gue buka Kompas.com, karena nggak punya tv di kos-kosan, internet jadi satu-satunya media informasi gue. Dan kadang kala gue jadi sangat terlambat untuk dapetin informasi.

Headline artikel yang paling menarik perhatian gue adalah kisah seorang bocah bernama Ponari. Diberitakan, Ponari adalah seorang bocah asal Megaluh, Jombang, Jawa Timur, yang mamapu menyembuhkan penyakit dengan hanya mengandalkan sebuah batu yang konon di huni oleh dua mahluk halus. Belasan ribu orang berdatangan ke kediaman Ponari dan berharap bisa disembukan berbagai penyakitnya.

Miris banget gue waktu baca artikel itu. Ngebayangin seorang anak SD, diminta ngelayanin 15,000-an orang yang minta kesembuhannya. Apalagi waktu baca artikel terkait hari ini. Tambah miris lagi . Orang-orang nyungkil tanah di kediaman Ponari dengan harapan, tanah di pekarangan rumahnya bisa berkhasiat menymbuhkan.

Ok, ini masalah. Sangat jelas ini adalah masalah yang gawat buat Bangsa Indonesia. Waktu orang-orang di Jakarta antri berjejalan masuk ke dalam Bus Way, orang-orang di daerah masih melakukan begitu banyak hal-hal bodoh dan nggak masuk di akal. Belasan ribu orang Indonesia berharap dapat sembuh dari seorang bocah bernama Ponari yang punya batu sakti

Gue nggak akan bilang kalo apa yang dilakukan Ponari itu adalah penipuan dan nggak masuk akal. Gue pribadi sangat percaya sama hal-hal seperti itu. Permasalahannya, jadi nggak masuk akal ketika orang-orang itu menjumputi benda-benda disekitar rumah Ponari dan percaya kalo itu semua bisa nyembuhin penyakit mereka. For god sake, minum air campur tanah darimananya bisa nyembuhin penyakit!!

Apa ini indikasi kalau kesehatan di Indonesia masih sangat minim dan jauh dari standar? Kalau ya, siapa yang paling bertanggung jawab? Apakah pemerintah? Daerah atau Pusat?

Kalau kaya gini, gue pribadi cuma bisa ngurut dada…

From: Astronot Bumi
Via: Live Writer