Colombo Trip – Part One

Pukul 18.05 waktu Jakarta saya bertolak ke Kuala Lumpur, untuk nantinya berganti pesawat dan melanjutkan perjalanan ke Colombo Sri Lanka. Di Colombo, ada pekerjaan besar yang telah saya tunggu selama dua tahun yang menanti untuk segera diselesaikan. Dengan menggunakan pesawat Malaysia Airlines, flight MH 722, saya meninggalkan tanah air untuk 5 hari kedepan. Sekitar 3 jam kemudian saya dan beberapa rekan sampai di Kuala Lumpur International Airport. Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah melayu tersebut. Pertama kali pula saya menaiki Aero Train. Seharusnya Jakarta (ya, Jakarta, bukan di Soekarno-Hatta) memiliki alat transportasi semacam ini.

Sekitar satu setengah jam lamanya saya transit di KLIA untuk melanjutkan perjalanan ke Colombo. Disana, booth free internet tidak lagi menggunakan komputer, tapi sudha menggunakan tablet seperti iPad dan Galaxy Tab. Koneksinya menggunakan broadband gratis yang lumayan cepat. Saat saya berseluncur menggunanakan laptop milik rekan saya, kecepatan yang saya rasakan masih lebih lambat dari koneksi di bandara Changi, Singapore. Pukul 21.15 waktu Kuala Lumpur, saya pun boarding dan segera melanjutkan penerbangan ke Colombo menggunakan Boeing 737 milik maskapai yang sama, Malaysia Airlines. Dengan harga yang tidak jauh berbeda untuk perjalanan ke Sri Lanka, pengalaman saya mengatakan lebih menyenangkan menggunakan Singapore Airlines dibandingan menggunakan Malaysia Airlines. Singapore Airlines menggunakan pesawat yang lebih besar dan menyediakan hiburan disetiap kursi di kabinnya. 6 jam penerbangan menggunakan Malaysia Airlines, hiburan saya satu-satunya hanyalah tidur.

Pukul 00.05 waktu Colombo, sekitar pukul 1.30 waktu Indonesia Barat, saya akhirnya tiba juga di Bandara International Colombo. Terakhir saya ke Colombo pada 29 November 2008, dan ternyata sudah banyak yang berubah. Dahulu, tidak ada biaya visa on arrival. Sekarang dipungut biaya sebesar US$ 25 / orang untuk biaya VOA. Setelah selesai mengambil bagasi 39 menit kemudian, saya menyempatkan diri ke counter Etisalat untuk membeli pre-paid card untuk melancarkan telekomunikasi. Harga sebuah sim card kosong adalah Rs 200, ditambah biaya aktivasi Blackberry sebesar Rs 400 dan pulsa untuk internet broadband telepon dan sms sebesar Rs 300, saya sendiri sudah menghabiskan Rs 900 diawal kedatangan saya kali ini. 1 Rupee sekitar Rp 70, jadi total biaya untuk melancarkan komunikasi saya adalah Rp 63,000. Biaya untuk paket Blackberry menggunakan etisalat ini tergolong sangat murah, hanya Rp 28,000 untuk penggunaan satu bulan. Bandingkan dengan harga di Indonesia!

Kemudian saya harus menumpuh perjalanan darat menggunakan mobil selama kurang lebih 45 menit menuju pusat kota, tepatnya di Hotel Galadari. Disini, harga hotel permalamnya sekitar US$ 180 untuk kamar twin bed, tanpa ada koneksi internet. TAK ADA WI-FI DI HOTEL INI!! Bahkan untuk menulis artikel ini, saya harus menggunakan koneksi internet broadband menggunakan laptop rekan saya. Saya rasa cukup sekian cerita perjalanan saya sampai saat ini, pada tulisan berikutnya akan saya ulas lebih jauh tentang pengalaman kuliner di negara ini berikut dengan foto-fotonya. :)

Advertisements

Watak Bangsa Indonesia

Pagi ini saya memulai hari dengan kebiasaan yang sama yang selalu saya lakukan setiap pagi, membuka handphone. Dan pagi ini saya dikejutkan dengan sebuah email pemberitahuan akan adanya sebuah komentar di Blog saya ini.

Well, sudah lama sekali sejak terakhir saya mendapat komentar ditulisan saya (apapun itu) karena saya sendiri sudah lama tidak menulis sesuatu di Blog saya ini. Dan karena email notifikasi komentar yang saya terima tersebut, saya terpancing untuk membuat tulisan ini.

Komentar tersebut ditulis di halaman blog saya yang membahas tentang sebuah film berjudul Underworld: Rise of The Lycan, sudah sangat lama saya menuliskan pendapat saya tentang film tersebut, sehari setelah film tersebut tayang di bioskop dan saya menontonnya. Film tersebut secara pribadi saya kategorikan sebagai a no no prequel of Underworld series, plot cerita yang (menurut saya) buruk dan perusakan nilai-nilai ke-vampir-an yang dilakukan oleh sang sutradara dan penulis cerita, memaksa saya untuk mengatakn bahwa film ini SUCKS, menjemukan.

Dan entah mengapa, ada seorang fans dari film ini yang membaca tulisan saya akan film ke-3 dari Underworld series ini, tiba-tiba memaki-maki saya lewat kolom komentar. Well, yah, saya cukup paham perasaan seorang fans yang tersakiti saat apa yang mereka yakini dinilai buruk oleh orang lain. Been there to know how it works. Lalu apa permasalahannya? Permasalahannya adalah soal sikap. Apakah sebegitu sulitnya bagi kita untuk bersikap lebih bijak pada suatu perbedaan? Hanya karena suatu pendapat yang berbeda, orang berhak menghujat orang lainnya seenak jidat dan dengkul mereka?

Contoh sepele yang saya rasakan ini sering kali saya lihat di kehidupan sehari-hari. Saat seseorang mengkritisi sesuatu hal, pihak yang kurang berkenan akan balas mengkritisi, namun dengan nada menghujat dan mengecam. Memangnya dimana letak kesalahan seseorang mengkritisi sesuatu hal yang menurut dia salah? Hanya karena memiliki pendapat yang berbeda, bukan berarti sang kritikus ini layak untuk di hujat. Bukannya seharusnya kita pelajari dulu, kritikan apa yang di sampaikan oleh sang kritikus, baru kita memberikan tanggapan balik.

Entah kenapa watak semacam ini seperti menjadi mendarah daging di masyarakat Indonesia. Kita (karena saya juga orang Indonesia) merasa apa yang kita lakukan itu adalah yang paling benar, paling absolut dan tak terbantahkan. Ketika kita di kritisi, kita merasa takut, apa yang kita yakini dan kita sampaikan ternyata adalah salah. Namun demi mengedepankan gengsi, kita memilih untuk menolak di kritisi. Hanya karena kita takut, kita benar atau salah. Pertanyaan besar yang kemudian muncul: “Kenapa bisa jadi begitu?”

Well, saya pribadi tidak mampu menjawab pertanyaan yang terlalu kompleks tersebut. Yang saya pahami dan saya percayai, bangsa ini tidak serta merta menjadi bangsa yang kasar dan gemar menjustifikasi seenak jidatnya. Ada banyak pemicu yang menjadikan kita seperti sekarang ini, apalagi jika tak ada filter yang yang mampu menahan watak buruk seperti itu.

Yah, ini hanya pendapat saya (yang mana saya hanyalah manusia biasa, amatir) semata. Tanpa bermaksud memojokan atau menjadi sok tau. Semua tulisan ini, hanya pandangan dan pendapat saya semata.

Terima kasih telah sudi membaca tulisan saya.

@astronotbumi

Posted from my AstronotBerry®

Kenapa Orang Indonesia Jadi Beringas?

Barusan gue balik dari meeting di kantor gue yang satu lagi. Gue ngebahas masalah persiapan kantor gue yang mau ikut pameran di JCC bulan Desember nanti. Balik gue di kantor gue yang satu lagi itu, gue buka laptop gue. Ngecek-ngecek inbox email, dan ada subscribe dari Navinot. Begitu geser mata kebawah, kaget gue liat ada satu comment masuk ke account wordpress gue. Bukan kaget karena ada komentar yang masuk. Tapi kaget karena isi komentarnya yang bikin gue geleng-geleng kepala. Bunyi komentarnya:

“anjing kau malaysia sok menyamar jadi bloger indonesia, sweeping besar2 terhadap warga malaysia titik harga mati.”

dari seseorang bernama Royhan Hadi di tulisan gue yang bertajuk Apakah Kita Harus Berperang Dengan Malaysia?
Pertama gue berfikir dia ini blogger yang kesel karena blognya dihajar sama Blogger Malaysia. Atau karena semangat nasionalisme yang menggebu-gebu sampai harus sweeping Blog Malaysia segala.

Beneran, ngga habis pikir gue baca tulisan diatas. Kenapa? Well, karena pada dasarnya tulisan itu gue tujukan ke seluruh pembaca yang merasa orang Indonesia, supaya sadar diri. Mampu atau ngga mereka untuk berperang? Untuk menanggung beban perang? Nggak perang aja udah banyak yang kelaparan.Gimana kalau harus berperang dengan Malaysia. Masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun sudah terdidik menjadi masyarakat yang egois. Maunya menang sendiri, nggak mau kalah, kalau kalah yang ada marah!
Dan satu hal lagi yang bisa bikin gue bilang bangsa kita ini bangsa yang egois, MEREKA NGGA MAU DIINGETIN!! Gila kali ya…

Segitu ngga terimanya gue ngingetin orang-orang supaya ngga milih perang sama Malaysia. Nyulut perang sih gampang. Bagus kalau perangnya cuma di laut, antar kapal laut aja. Kalau perangnya sampai daratan. Jakarta bisa hancur dalam sekejap sama skuadron Sukhoi-nya Malaysia, dan kita cuma bisa ngebales pakai F-16 hasil kanibal! Dan kalian bangga sama itu semua! Pecundang yang bisanya cuma teriak Perang!

Ngurusin negara itu ngga sama kaya ngurusin RT. Kalian ngurusin mulut kalian sendiri aja belum bisa, tapi udah berani-beraninya teriak perang sama negara lain. Wajar kalau setiap kali ada kebudayaan kita yang dicontek sama Malaysia bisanya cuma bikin spanduk ‘Ganyang Malaysia’ sambil bakar bendera mereka. Perlakuannya sama kaya waktu mergokin maling ayam. Digebukin, terus dibakar hidup-hidup! Main Hakim Sendiri!
Dan kalian bangga sama itu semua? Ngerasa paling Nasionalis? Mati aja deh kalian semua. Bisanya ngerusak nama baik negara aja.

sweeping01

Sweeping Warga Negara Malaysia oleh orang-orang dungu.
Sumber: Detik photo.

Kalian pikir negara bangga liat kalian bertingkah macam seperti ini? Kalian pikir negara jadi untung dengan kalian berbuat anarkis macam ini? Ini tahun 2009 Bung! Kalian pikir kita sedang di jajah Malaysia? Kita dijajah bangsa kita sendiri! Kita dijajah Koruptor! Kita dijajah pencuri uang rakyat! Yang bikin anak muda bangsa kita jadi tolol macam kalian ini! Emosional dan nggak punya etika.

Saya juga ngga suka dengan Malaysia yang ngekuin batik kita. Reog Ponorogo kita, bahkan sampai tari Pendet yang mereka cantumin di iklan pariwisata mereka. Mereka memang Pengecut karena ngga berani mengakui itu semua. Tapi jangan jadi manusia tolol dengan merusak nama baik bangsa di mata penduduk dunia selain Malaysia! kalian pikir kita cuma hidup berdua dengan Malaysia? Goblok sia!!

Saya malu, sama-sama pakai rompi bertuliskan BANGSA INDONESIA jika harus bersanding dengan manusia picik macam kalian. Ada ribuan cara untuk menjaga budaya kita. Ada ribuan cara supaya budaya kita tak lagi di curi bangsa lain. Dan bukan dengan membakar bendera dan mensweeping warga negara asing!

Bangsa kita jadi beringas karena kebiasaan buruk kita sendiri. Kita jadi senang main hakin sendiri, karena menurut kita itu hal yang paling benar. Itu bagian dari pembelajaran Demokrasi. Semua serba bebas! Bebas ngajak perang negara lain, bebas nginjak-injak bendera negara lain, bebas ngebakar atribut negara lain! Aturan baru bangsa kita: Bebas Untuk Menjadi Beringas!!

Lain kali, pakai otak sebelum bertindak. Jangan karena dipanas-panasi sama Malaysia, kalian malah merugikan bangsa kalian sendiri. Shame on you guys! Shame on you…

 

Ditulis di Bekasi, 14 September 2009.
Oleh RB. Raditya Mahendrata, Peranakan Jogja sama Jogja.
7 tahun tinggal di Siti Sewu, 16 tahun menetap di Depok.
*Kalau ada yang bilang gue orang Malaysia, gue kutuk masuk Neraka ngga keluar-keluar!!*

Apakah Kita Harus Berperang Dengan Malaysia?

Indonesia vs Malaysia

Beberapa kali saya menilik ke stasiun televisi, hal yang saat ini sedang memanas adalah kasus perebutan Blok Ambalat oleh Indonesia dan Malaysia. Banyaknya kecaman-kecaman publik Indonesia di situs jejaring sosial Facebook pada Malaysia dengan gerakan anti Malaysia, yang pernah saya muat di posting sebelum ini.

Ada apa dengan Blok Ambalat? Mengapa Blok Ambalat menjadi begitu berharga bagi keduanya, khususnya bagi Indonesia? Apakah karena minyak bumi yang berlimpah di dalamnya? Sehingga kita harus mati-matian mempertahankannya?
Bukan, bukan karena apapun yang terkandung di dalamnya. Melainkan demi mempertahankan kedaulatan Bangsa kita, Bangsa Indonesia. Dengan melepaskan Ambalat, kita hanya akan mengulangi kesalahan kita ketika Sipadan-Ligitan terlepas dari Bumi Indonesia!

Hal yang ingin saya cermati disini adalah, tentang efek yang timbul di masyarakat Indonesia berkenaan dengan konflik Blok Ambalat ini. Seperti yang saya katakan di atas, begitu banyak kecaman publik yang saya lihat belakangan ini ke Malaysia, dari Bangsa Indonesia. Mulai dari kecaman di dunia maya hingga demonstrasi anti Malaysia yang banyak dilakukan kaum muda Indonesia belakangan ini. Hal yang paling saya cermati adalah mengenai semakin sering munculnya kata-kata MALINGSIA di dunia maya dan pembakaran bendera negara Malaysia.
Saya pribadi mengatakan bahwa hal-hal itu adalah TIDAK BENAR!

Pembakaran Bendera MalaysiaBukan karena saya tidak Nasionalis dan membela Malaysia. Akan tetapi, seperti yang pernah saya katakan di post sebelum ini, tetapi karena hal itu bukanlah hal yang patut dibenarkan. Memang banyak Tenaga Kerja Indonesia yang disakiti di Malaysia, banyak diantaranya kembali ke Indonesia dalam kotak kayu dan tak bernyawa. Namun itu bukan alasan untuk membakar bendera mereka. Malaysia bukanlah Israel yang membantai ribuan umat Muslim di Palestina. Malaysia hanyalah sebuah negara yang berusaha menutupi kesalahan yang dibuat oleh anak bangsanya, SAMA sepeti kita, Indonesia. Bukan alasan mengatai mereka Malingsia ketika mereka menyumpahi kita Indonsial.

Bayangkan saja dua orang preman bersinggungan di tengah jalan, saling tersinggung satu sama lain dan tak ada yang mau mengalah. Yang satu mengatai yang lain dengan panggilan Babi, dan yang satu lagi memanggil dengan makian Anjing. Apa yang terjadi mudah ditebak, keduanya akan berakhirbabak belur saling sikut dan tendang. Apa manfaatnya? Tak ada! Kelebihannya? Tak ada! Kedua-duanya hanya mementingkan ego masing-masing. Ingat, yang waras mengalah!

Yang perlu kita tengok jauh lebih dalam lagi, berkenaan dengan kesiapan kita untuk maju berperang dengan negara tetangga kita, adalah apakah kita sudah pantas, mengangkat senjata mempertahankan kedaulatan bangsa kita ketika dari dalam bangsa kita sendiri masih terpecah belah. Ketika anak bangsa kita sendiri masih senang mempermalukan diri mereka dengan saling adu kekuatan. Saya ingat ketika menonton di salah satu stasiun televisi swasta, ketika salah seorang calon presiden RI 2009-1014 mengatakan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang santun dan membenci kekerasan. Saya katakan, itu adalah kebohongan publik yang sangat besar. Bangsa kita adalah bangsa yang senang dengan kekerasan.

Tawuran 02 Gambar disamping ini cukup menjelaskan bagaimana kekerasan telah mendarah daging di nadi orang Indonesia saat ini. Dan parahnya lagi, kita sepertinya bangga akan hal ini. Orang-orang kita, lebih senang memperhatikan hal-hal yang terekspose oleh media, hal-hal yang diberitakan di televisi atau media massa lainnya. Mereka melupakan hal-hal mendasar yang setiap hari terus menggerogoti kekuatan bangsa ini. Ingat, Indonesia pernah menjadi kuat bukan karena senjata yang mereka genggam. Indonesia pernah memenangkan kedaulatan negeri ini dengan tekad dan semangat untuk menjadi lebih baik. Dan sepertinya, orang-orang Indonesia saat ini melupakan hal itu. Kekerasan, adalah hal yang dihalalkan di Indonesia saat ini. Apakah dalam kondisi seperti ini, bangsa kita siap berperang?

Satu hal lagi yang paling mencolok, perlu diingat bahwa peperangan tak hanya mengandalkan tekad dan semangat ‘45 yang membara. Peperangan membutuhkan kemampuan orang-orang yang terlatih dan juga alat. Alat yang mendukung peperangan, atau biasa disebut senjata. Apakah persenjataan militer kita cukup memadai untuk beperang melawan Malaysia? Dengan anggaran belanja militer sebesar US$ 3,6 juta pada 2008, dan hanya menempati urutan ke-33 dari prioritas anggota dewan, bagaimana kita mampu mengadakan persenjataan yang memadai bagi TNI?Militer Mampukah kita bertarung dengan skuadron Sukhoi SU-30 milik Malaysia, dengan ‘kurang dari satu skuadron Sukhoi SU-30’ milik Indonesia. Saat ini kita hanya memiliki 7 buah Sukhoi SU-30 yang dibeli dari Rusia seharga US$ 43 juta per unitnya. Sedangkan TNI-AU merencanakan untuk memiliki satu skuadron tempur Sukhoi SU-30 sebanyak 10 buah. Berarti TNI-AU memerlukan 3 buah Sukhoi SU-30 lagi untuk melengkapi satu skuadron tempur Sukhoi SU-30nya. Tapi mau dikata apa, dengan budget US$ 3,6 juta itu mungkin TNI-AU hanya mampu membeli ekor pesawat sebuah SU-30. Itupun dengan melupakan kenyataan bahwa US$ 3,6 juta ini harus dibagi bersama kesatuan-kesatuan di TNI. Menyedihkan? Tanya kenapa…

Bagaimana kita bisa berperang, atau minimal mempertahankan diri dari gangguan dalam dan luar negeri, jika para petinggi kita tak ingin mengalokasikan dananya untuk memperkuat ketahanan Militer bangsa ini. Mereka mungkin lebih baik mengucurkan dana di sektor yang lain karena lebih mudah untuk mereka nikmati cipratan-nya. Malu, melihat 17, 504 buah pulau yang tak bisa dilindungi dengan baik oleh TNI. Jangan salahkan Malaysia melanggar kedaulatan negara kita jika para pemimpin kita masih mengecilkan arti dari kedaulatan itu sendiri!

Kembali ke pertanyaan yang paling substansial, Haruskah kita berperang dengan Malaysia? Siapkah kita menanggung beban akibat peperangan dengan Malaysia? Lain kali, berfikirlah dengan baik sebelum berteriak-teriak. Untuk saat ini, saya katakan saya sangat siap jika harus berperang dengan Malaysia. Saya akan memulai peperangan saya, dengan memilih pemimpin yang memang berkeinginan merubah Indonesia, siapapun itu. Karena dengan tidak memilih, saya hanya akan jadi kumpulan pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik layar komputer!

Terima Kasih

Nasionalisme Dan Alasan Untuk Menyerang

image

Gbr. Indonesian Flag (From Video Clip Project E.A.R – Marabahaya)

Belakangan ini kita diributkan dengan masalah Malaysia yang memasuki Blok Ambalat, perlakuan Anggota Kerajaan Kelantang Malaysia pada salah satu anak bangsa kita, Manohara yang beritanya santer ditayangkan di televisi, hingga perlakuan bangsa mereka pada tenaga kerja dari Indonesia.

Yang ingin saya bicarakan disini, adalah wujud dari rasa nasionalisme bangsa kita yang menjawab semua permasalahan tersebut. Istilah Malingsia pun ramai kembali di penjuru dunia maya. Sebuah group pun dibentuk di jagat jejaring pertemanan, Facebook. Demi menjawab panggilan mereka atas bangsa kita, Indon, yang merupakan bahasa Budak.

Yang sama sekali saya tidak habis pikir adalah, kenapa mereka musti melakukan hal itu? Apakah tindakan buruk harus dibalas dengan tindakan buruk juga? Apakah itu bentuk dari rasa Nasionalisme? Dengan membakar bendera negara bangsa lain? Dengan mengutuk bangsa mereka? Apakah dengan begitu kita dapat menunjukan rasa Nasionalisme kita?

Kembalikan ke diri kita masing-masing, apakah kita akan menerima perlakuan bangsa lain yang tiba-tiba membakar bendera kita karena suatu hal? Tentu tidak. Bendera bukanlah sekedar kain berwarna-warni yang digunakan untuk membedakan suatu negara. Merah-Putih lebih dari pada itu. Merah putih adalah perlambang keberanian pahlawan kita dahulu dalam upaya mempertahankan kesucian Bumi Indonesia.

Apa dengan berteriak MALINGSIA kita bisa membawa perubahan? Apakah dengan begitu Malaysia tidak akan memasuki Blok Ambalat? Dan kejadian Sipadan-Ligitan tidak akan terulang untuk kedua kalinya? Mengapa Malaysia berani memasuki perairan kita? Mengapa negara sekecil Malaysia berani mengusik negara sebesar Indonesia? Kenapa mereka berani mencuri kesenian kita? Kenapa mereka berani mematenkan kebudayaan Indonesia?

Tanyakan ke diri sendiri. Sebuah kenyataan bahwa yang selalu bisa kita lakukan hanyalah menyumpah serapah dari dunia maya atau jalanan, tanpa bisa menyelesaikan akar masalah. Bukan hanya Malaysia yang ingin menyerang dan menginjak-injak kita. Ada banyak bangsa lain, yang bahkan semenjak ratusan tahun lalu telah tertarik dengan apa yang ada di bumi pertiwi Indonesia.

Bangsa kita tumbuh sebagai bangsa yang sombong, yang percaya bahwa sebatang tongkat dapat tumbuh menjadi sebuah pohon yang mampu mencukupi kehidupannya. Yakin bahwa lautannya yang luas akan dapat menghidupi seluruh rakyatnya hingga akhir jaman. Kita terlalu terbuai dan hanya memikirkan hal-hal yang terlihat dan terasa oleh penglihatan kita. Media membawa kita kearah yang lebih buruk, bukannya lebih baik. Perkembangan mental pemudanya kearah yang jauh lebih buruk dari yang diharapkan.

Apakah kita bangga dengan semua kenyataan itu? Puaskah kita dengan apa yang telah dicapai oleh negeri ini? Sudahkah kita memberikan setetes keringat kita untuk negara ini? Seperti apakah wujud Nasionalisme kita? Dengan menjelek-jelekan negara lain yang menghina kita.

Seharusnya kita malu pada Malaysia. Mereka dulu belajar dari kita. Mereka menuntut ilmu di negeri kita. Orang-orang pintar di negara mereka dulu pernah mengeyam pendidikan di Bumi Indonesia. Dulu mereka murid kita. Tapi apa sekarang? Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia. Seolah-olah kita tak pernah bergerak maju. Monoton dan tidak ingin berubah. Wajar saja kalau mereka mengatai kita mental budak. Jangan marah! Karena sikap kita yang menunjukkan demikian.

Bukannya meningkatkan taraf pendidikan bangsa, jumlah utang luar negeri yang kita tambahi. Bukannya menambah dana militer, malah dikorupsi anggota dewan. Cuma hutang dan Korupsi kita yang menjadi prestasi utama saat ini. Dan kita bangga akan hal itu. Jangan palingkan muka dari borok sendiri!

Apakah saat ini kita punya alasan untuk menyerang balik ke mereka? Yang berusaha menginjak-injak kita? Apakah kita mampu? Jangan hanya bersembunyi dibelakang layar monitor dan mengacau di situs Malaysia. Buktikan bahwa kalian mampu lebih dari itu!

Berhenti jadi penonton! Berhenti meneriakkan hal tak berguna! Memulailah dengan ikut memilih pemimpin yang terbaik bagi Indonesia.

Again, Nuclear Facilities

Makan siang gue tiba-tiba tersela oleh munculnya private message dari seorang teman gue. Setelah basa-basi sebentar soal bagaimana kiranya dia ngajak seorang cewek untuk diajak threesome sama ceweknya, dia lalu ngomentari tulisan gue soal komentar seorang teman gue yang lainnya tentang fasilitas nuklir di Indonesia. Paling nggak itu poin yang dia angkat dari tulisan gue itu.

atomic_logo Perdebatan dimulai dari temen gue ini, sebut aja si T, nentang argumen temen gue si G, soal keharusan Indonesia anti Amerika. Si T bilang, suatu hal yang nggak masuk akal dan irrasional, kalau Indonesia harus melepaskan hubungannya dengan Amerika. Baik secara diplomasi maupun ekonomi. Menurutnya, dengan lepasnya Indonesia dari Amerika, terutama melepaskan diri dari ketergantungan akan BBM (which is fully supported by US Government) adalah hal yang sangat nggak masuk akal.

Menurut Mr. G, pengeluaran terbesar BBM kita adalah untuk pengadaan tenaga listrik. Sedangkan Menurut Mr. T, peneluaran BBM terbesa Indonesia adalah untuk kalangan Industri dan Transportasi. Adalah suatu ketidak mungkinan untuk menghentikan penggunaan BBM untuk bidang transportasi. Keduanya terasa sangat masuk akal buat orang-orang yang awam dan nggak terlalu mahfum dengan hal tersebut. Melihat tingkat kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya, dan kelompok Industri yang memang bergantung dari ketersediaan BBM, masuk akal jika dikatakan penggunaan BBM terbesar adalah untuk 2 hal tersebut. Tapi tak bisa dipungkiri, dengan menurunnya daya yang dihasilkan oleh PLTA di Indonesia, maka PLN membutuhkan dana yang lebih besar dalam penyediaan BBM untuk pembangkit lainnya. Bahkan tahun 2009-2010 ini, PLN berencana meningkatkan konsumsi BBMnya.

Perdebatan gue antara Mr. T terus berjalan sampai membahas tingkat kemampuan orang Indonesia dalam menangani instalasi Nuklir (kalau memang dibangun). Wong nanganin Depo Plumpang aja nggak becus.
Yah, memang miris kalau ingat hal itu. Tapi disatu pihak, dengan berfikir kalau Indonesia belum pantas menginstal sebuah instalasi nuklir di salah satu belahan pulaunya, menunjukan kalau kita itu sangat statis dan mengidolakan kekurangan kita akan belajar tentang sesuatu hal baru.

Disini gue kurang sepakat dengan Mr. T, menurut gue, Indonesia sudah pantas untuk membangun sebuah instalasi nuklir. Dengan jumlah pulau yang sangat banyak. Negara dengan luas yang sangat besar seperti Indonesia sudah layaknya memegang teknologi yang sama dengan negara kaum penjajah pindahan itu. Apa sih susahnya? Bikin satu, pelajari cara ngerawatnya, jaga yang bener dan voila, kita punya sumber energi yang bisa bikin Amerika mikir dua kali untuk ngusik eksistensi Indonesia.

Tapi, lagi, kata Mr. T gimana pun juga nggak gampang untuk membangun instalasi nuklir di Indonesia. Pertimbangan Ekonomi, Sosial, Budaya dan lain-lain. Mr. T tanya ke gue, apakah Indonesia sudah benar-benar siap menerima teknologi “alien” itu? Dan gue jawab, kalau terus-terusan mikir soal semua kekurangan orang Indonesia, Indonesia cuma akan terus terpuruk dan nggak maju-maju.

Yah, itu cuma perdebatan sempit antara dua orang yang sangat awam soal hal-hal yang kita berdua perdebatin. Menurut gue pribadi, Indonesia sangat butuh perubahan dan keluar dari stagnasi yang udah mendarah daging. Dan gue setuju sama Mr. G, lepas dari Amerika adalah langkah yang sangat tepat. Sorry to say Mr. T, for me, you were wrong this time.

 

From: Astronot Bumi
Via: Live Writer

Nuclear Facilities In Indonesia

Okay, kemarin minggu gue main ke rumah salah satu teman gue. Awalnya kita ngomongin masalah bisnis dan kerjaan. Lama kelamaan, karena nggak ada topik lain untuk dibicarain, gue sama temen gue ini ngomongin masalah politik. Yah, nggak jauh-jauh, karena topiknya selalu asik buat dibahas dan nggak ada habisnya.

Yang kita bicarain kali ini adalah tentang siapa yang akan menjadi Presiden berikutnya dan kiranya apa saja yang akan dia lakukan di masa kepemimpinannya. Setelah membahas beberapa tokoh yang unggul di panggung pemilihan Presiden di Indonesia, temen gue lalu menyebutkan satu nama dari partai yang dia dukung sebagia salah satu calon yang cukup berkompeten.

Namanya cukup dikenal, walaupun hanya sebagai seorang Mentri. Beliau adalah Adhyaksa Daud, Menpora yang juga seorang kader PKS. Teman gue bilang, Adhyaksa ini cukup kompeten jika menjadi Presiden. Lantas gue tanya alasannya apa. Dia jawab, “Adhyaksa ini orangnya mirip kaya Mahmoud Ahmadinejad Be. Jadi kalau dia jadi presiden, gue yakin Indonesia bisa jadi kaya Iran. Anti Amerika…”

Sesaat gue mikir. Kepala gue bercabang dua, antara sepakat anti Amerika dan nggak. Melihat kerugian yang akan diderita negara kita kalau kita anti Amerika. Nggak berapa lama lagi temen gue nambahin.
”Amerika itu ngejajah dunia, pake BBM. Mereka kan yang nguasain penjualan minyak di seluruh dunia. Kalau kita berhenti pakai BBM, negara kita nggak akan banyak hutang, soalnya pengeluaran terbanyak negara kita itu untuk BBM…”

Kata temen gue lagi, “Kalau kita berhenti pakai BBM, udah pasti kita jadi musuh Amerika. Nah, pengganti BBM, kita pake Nuklir aja…”
Well, very good idea menurut gue kalau Indonesia bikin Instalasi Nuklir di Indonesia. Mengingat kita krisis energi terus menerus. Kalau kita ngebangun 2 atau 3 instalasi Nuklir di Indonesia bisa menyelesaikan masalah, kenapa nggak?

Nuklir disini bukan buat Bom ya, tapi buat energi listrik. Karena pemakaian BBM terbanyak di Indonesia itu untuk PLN. Kalau kita bisa mengalihkan penggunaan BBM dari PLN ke masyarakat, pemerintah jadi nggak perlu mengalokasikan terlalu banyak biaya untuk energi listrik.

Kata temen gue lagi, bahkan mungkin Iran bakal bersedia menyumbangkan satu buah instalasi ke Indonesia, sebagai sesama penentang Amerika . Tapi itu hanya dan hanya jika kita punya Presiden yang berani ambil keputusan untuk anti Amerika. Karena ini cuma angan-angan, entah bisa kejadian atau nggak. Hehehehe…

 

From: Astronot Bumi
Via: Live Writer