Sushi Artis Bukan Berarti Fantastis

I love Sushi. Especially the Nigiri Salmon. Jika ada kesempatan dan rejeki, saya ditemani istri akan menyempatkan diri mencicipi sushi untuk makan siang atau malam. Memang belum banyak restoran sushi yang kami coba di Jabodetabek, tapi tentunya kami akan berkembang. Dan hari ini untuk pertama kalinya kami mencoba restoran sushi pinggir jalan di Margonda, Sushi Miya8i. Menurut kakak saya yang sudah beberapa kali makan diresto tersebut, Sushi Miya8i layak untuk dicoba.

23979_largePhoto: doc. Okezone

Mulai dari pertama memasuki restoran tersebut, entah mengapa saya merasa kurang nyaman. Tata letak meja yang terlalu padat, warna merah yang menyala dan cahaya terang dari luar (kebetulan saat itu tengah hari saat matahari membelah diri) yang agak silau, entahlah, tetapi saya merasa kurang nyaman. Saya paksakan untuk mencoba dan memesan 4 jenis sushi, termasuk Nigiri Salmon kesukaan saya. Untuk soal kecepatan penyediaan makanan, sepertinya memang Sushi Miya8i tiada dua. Restoran ini buat saya memegang rekor penyajian sushi tercepat dalam pengalaman saya makan sushi. Kurang dari 5 menit, semua pesanan saya sudah served. Mengingat biasanya saya harus menunggu 10-15 menit hingga pesanan saya datang di restoran lain. Awalnya saya senang, tapi kemudian saya sadar, cepat menyajikan adalah kekurangan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini daftar hal yang mengecewakan saat menyantap sushi di Sushi Miya8i cabang Depok:

Continue reading

Advertisements

Minggu, 8 Februari 2009

Hari ini adalah hari kedua yang paling menyebalkan dalam weekend minggu kemarin. Kenapa?
Karena ketika gue nyalain tank-top (baca:laptop), dan plugging in modem Indosat gue, yang terjadi adalah nggak ada 3G network ceverage di daerah rumah gue hari itu. Benar-benar kampung!
Nggak tau masalahnya ada dimana, tapi setau gue Depok udah ke coverage 3G semuanya. Bahkan jaringan Edge yang paling minimum aja gue nggak bisa temuin. Satu-satunya yang membantu gue adalah jaringan GPRS standar dan Speedy di komputer kakak gue. Kalau nggak ada itu semua, mungkin gue nggak bisa on line sama sekali.

Ditambah cuaca yang nggak menentu. Hujan besar bisa turun dalam sekejap, dan nggak perlu menunggu 5 menit, hujan akan reda dengan begitu cepatnya. Dan seperti siklus, sepanjang hari hujan aneh ini selalu terjadi. Menyebalkan karena membuat gue bingung, keluar rumah, atau nggak. Kondisi cuaca menyabalkan seperti itu sama sekali nggak bersahabat buat kesehatan.

Jam 9 tadi gue memutuskan untuk berangkat ke Bekasi, ketimbang besok pagi kejebak hujan besar seperti minggu kemarin. Sedari jam 8, gue udah nyiapin segala keperluan. Bodypack pinjeman sepupu gue, Jakaet Yamaha kesayangan, segala perlengkapan tank-top, nggak lupa ngecek kondisi si Merah, roket kesayangan gue.

Jam 9 lebih 10 menit, gue meluncur di jalanan Depok menuju Bekasi. Meluncur sebentar, akhirnya gue merambah jalanan Ibu kota yang masih padat.
Jalanan menuju Pasar Minggu bagaikan sabuk Asteroid yang penuh sesak.
Jam tangan gue menunjukkan waktu pukul 9.15, dan minggu malam itu, jalanan menuju Pasar Minggu masih dipenuhi oleh banyak kendaraan. Nggak terlalu kaget, sih.

Hanya perlu 45 menit untuk gue sampai di Bekasi. Jalana Kalimalang setiap malam memang selalu bersahabat. Cukup tumpahkan Pertamax banyak-banyak di tungku pembakaran, Bekasi pun akan mudah untuk diterjang.

5 menit gue sampai di kos-kosan, hujan turun. Sangat bersyukur untuk hal itu, mengingat gue nggak punya Jas Hujan sama sekali selama setahun ini.
Selalu bertahan dengan pohon, halte dan warung pinggir jalan ketika hujan.

Penerbangan dari Depok ke Bekasi memang selalu melelahkan.
Tapi tak ada yang lebih menyenangkan dari berpetualang di Jalanan Ibukota dimalam hari.

I love to “flying” with my “Rocket”…