Review Dragon Ball: Evolution

DB Poster Ok, sebelum ini gue memang udah pernah menulis tentang Dragon Ball: Evolution. Review itu hanya berdasar dari trailer dan spoiler yang gue temuin di Internet. Tentang latar belakang tokoh utama nan legendari Son Goku. Tentang gurunya yang nyentrik Mutenroshi, Bulma yang terobsesi dengan Dragon Ball serta Piccolo yang dingin.

3 tahun yang lalu, pertama kali gue baca berita bahwa Dragon Ball (DB) akan diangkat kelayar lebar. Dan saat itu gue memang cukup skeptis, mengingat sangat sulit mengangkat film cerita legendaris ke layar lebar. Sejauh yang gue inget, baru Lord of The Rings yang mampu melakukannya.

3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Waktu yang sangat lama untuk memfilmkan serial DB yang berakhir dengan dikalahkannya Piccolo oleh Son Goku. Film yang kira-kira berdurasi satu setengah jam ini benar-benar merusak, bukan hanya merusak, tapi menghancurkan seluruh ekspektasi fans DB akan sebuah film yang mampu menggambarkan semua imajinasi mereka.

Dalam Dragon Ball: Evolution (DBE), Son Goku, 2000 tahun yang lalu adalah bawahan dari Piccolo yang berwujud kera raksasa. Walau pada kenyataannya yang gue lihat di film itu adalah seekor Lycan bernama Ozaru. Bagaimana Goku bisa berumur 2000 tahun? Lalu berapa usia Gohan, kakek Goku? Goku bukanlah seorang Saiyan. Bahkan Saiyan tak disinggung sekalipun di DBE. Hanya mahluk Namec yang disinggung di DBE, itupun tanpa menunjuk Piccolo.

Ingat bagaimana Piccolo ‘menelurkan’ antek-anteknya? Dengan memuntahkan telur dari mulutnya. Menjijikan memang, tapi begitu seharusnya seorang Namec ketika menghasilkan keturunan. Dan jangan berharap kalian akan melihat adegan ini. Yang ada hanyalah seorang Piccolo yang duduk disinggasananya dan diambil sample darahnya, untuk membangkitkan monster-monster, yang entah kenapa bentuknya tak terlalu jelas.

piccolo

Di film itu, gue merasa sosok Son Goku benar-benar dirusak. Ingat kan kalau Goku adalah sosok paling suci sepanjang cerita DB? Bahkan dia tak memeiliki perasaan dan hawa nafsu selain atas makanan yang melimpah. Disini sosok Son Goku yang digambarkan sebagai pelajar SMU yang cupu yang jatuh hati pada sosok Chi-chi, remaja cantik disekolahnya. Entah kenapa, gue merasa semua karakter wanita di film DBE ini murahan. Mereka semua pamer payudara dan belahannya!

Bagaimana Shen Long di bangkitkan juga membuat fans DB berteriak histeris di dalam kepalanya. Shen Long di DBE hanya bisa dibangkitkan di sebuah tempat bernama Kuil Naga. What the hell is that Dragon Temple! Shen Long hanya membutuhkan terkumpulnya ke tujuh bola naga untuk membangkitkannya, dan mewujudkan semua permintaan yang dimintakan kepadanya.

Tenkaichi Budokai? Jangan harap, bahkan berfikir untuk membayangkannya pun jangan. Karena Tenkaichi Budokai yang ada di DBE ini hanya layaknya pertandingan karate biasa. Tak ada panggung megah yang bernuansa Bali. Tak ada pembawa acara yang nyentrik. Dan Goku nggak berpartisipas di dalamnya.

Itu belum semua, CGI yang digunakan untuk membuat film ini sesuai dengan DB, rasa-rasanya kelas-nya satu level lebih tinggi dari yang digunakan untuk membuat sinetron-sinetron di Indosiar. Kamehame yang digunakan Goku untuk menghabisi Piccolo benar-benar kacau. Goku disini lebih mirip Avatar Aang yang menggendalikan api. Tak ada nilai grafis yang bisa diberikan untuk film ini.

Gue sendiri ngerasa sangat muak (sorry, tapi ini perasaan gue akan DBE) ketika gue nonton film ini. Kalian harus nonton film itu sendiri untuk membuktikan kalau apa yang gue tulis ini benar. Bahwa DBE adalah Flop, dan layak menyandang nilai 2 dari 10. Gue yakin, kalau ada 10 orang fans DB diberi kesempatan untuk memfilmkan DB, mereka bisa buat sesuatu yang jauh lebih bagus dari DBE.
Maaf, gue nggak bisa nulis lebih bagus dari tulisan gue yang kacau ini. Dragon Ball Evolution… Sucker then ever!

ps: Saran sponsor, kalau nggak mau gila mendadak, yang merasa fans DB, jangan nonton!!

DRAGON BALL: EVOLUTION

normal_Dragonball_poster_005LQ

Inget betul gue waktu itu masih kuliah semeter akhir waktu berita pertama kali Dragon Ball akan naik ke layar lebar. Dan buat gue yang ngefans banget sama Goku dan antek-antek ajaibnya sejak kecil itu meresa resah. Resah, kalau cerita yang sangat dipuja-puja orang-orang yang membacanya itu menjadi sebuah film Floop.

Dan benar aja, epik Dragon Ball itu menjadi sebuah lelucon nggak lucu gaya sitkom di AnTV (sorry, nggak maksud sebut merek, tapi nggak tahan). Go Kou yang identik dengan kepolosan dan ketidak cerdasannya itu bersekolah, sampai SMA! Great! Goku sendiri disini digambarkan sebagai seorang pemuda yang keren dan tinggal disebuah kota. Memiliki seorang kakek yang mengajarinya bela diri.

Diberi judul oleh penulis ceritanya, Dragon Ball Evolution (DBE), beberapa karakter yang menghilang disini adalah Yamcha dan Krilin. Mungkin karakter Krilin dihilangkan karena sulitnya mencari orang yang nggak punya hidung. Tapi secara keseluruhan, seluruh karakter yang ada di film ini sungguh jauh dari yang kita kenal sebelumnya di dalam komik maupun anime. Burma digambarkan bagaikan sosok Lara Croft yang ahli senjata dan bela diri. Mutenroshi yang diawal cerita delalu menggendong tempurung kura-kura diperankan oleh aktor kawakan Chow Yun Fat, dan hasilnya adalah seorang Bullet Proof Monk yang bisa mengeluarkan Kamehame. Piccolo di film ini digambarkan menggunakan jubah bak Chris John yang mau naik keatas ring tinju. Sorry, ralat, lebih seperti Hulk yang kurus yang hendak naik ring tinju. Ya, baru benar penggambarannya.

Jalan ceritanya memang tidak jauh berbeda dari Dragon Ball. Goku vs Piccolo. Namun cerita yang rencananya akan dibuat dalam Trilogi ini jadi seperti sampah di mata para penggemarnya. Son Goku lebih mirip Frodo Baggins yang hendak pergi ke Mordor untuk menghancurkan cincin milik Sauron. Setting dunia yang jauh berbeda dari cerita di komiknya juga sangat mengecewakan. Relief yang tergambar dalam komik karangan Akira Toriyama ini diakui oleh sang empunya, meniru relief yang ada di Bali. Dia mencontohnya ketika melihat gambar-gamabar mengenai Bali pada koleksi foto istrinya. Dunia DBE ini nggak jauh berbeda dengan Amerika.

Gambar-gambar yang ditampilkan di trailernya lebih menunjukkan bahwa film ini menganut faham CGI-isme, walaupun creatornya menampik tudingan tersebut. Menurut mereka, 85% pembuatan film tersebut di Mexico City, Durango, Los Angeles. Biaya 100 juta Dollar yang digunakan untuk membuat film ini terasa terbuang percuma. Film ini bahkan tak bisa dibandingkan dengan Transformers. Mengecewakan…

 

Beberapa Karakter Dalam DBE:

Goku

justindballign

Mutenroshi

normal_roshichow

Bulma

db_stills_016sm1

 

 

– TRAILER DRAGON BALL EVOLUTION –