Catatan Perjalanan ke Algeria Bag. 1

Image2182

Ini hari ke 4 aku di algeria. Terhitung baru 2 kota yang ku jelajahi. Pertama kota dimana aku menetap, Ain Bouzaine, kota sebelah Timur Laut Constatine. Kota kecil dengan banyak perkebunan kentang dan daun bawang di dalamnya. Dikelilingi pegunungan tinggi dan pepohonan zaitun. Dan kedua, kota dengan nama El Arrouch, 11 km dari Ain Bouzaine. 10 menit dengan kendaraan umum, sedikit ke Utara.

Di Ain Bouziane, aku menetap di camp COJAAL, tempat pekerja Tunnel project menetap selama ini. Sebuah camp kecil seluas kurang lebih 300 m2. Lebih terlihat seperti penjara Gunatanamo ketimbang sebuah camp pekerja. Dengan barak-barak rapat yang dihiasi antena parabola di setiap ruangan. Saat ini musim mulai beralih dari musim dingin ke musim panas. Walau begitu, suhu di luar ruangan bisa mencapai 10 – 18 derajat ketika pagi. Bahkan ketika matahari berada di kepala, aku masih bisa merasakan dingin yang menusuk kulit.

Map picture

Peta Algeria – Ain Bouziane dan Sekitarnya

Dua kali sudah aku ke El Arrouch, pertama untuk mengambil foto untuk kartu masukku ke proyek COJAAL, kedua sekedar untuk melihat-lihat lebih jauh seperti apa El Arrouch dan orang-orang didalamnya. Walau terletak di benua Afrika, namun sangat sulit menemukan orang berkulit gelap disini. Kebanyak adalah orang Arab + Perancis. Berkulit putih dan berhidung mancung. Jika aku melihat orang berkulit gelap, tak lebih dari imigran dan turis yang berbisnis ke Algeria.

Algeria bukanlah negara yang maju. Mereka tak menerima investor asing di negaranya, itu mengapa sangat sulit menemukan merek dagang internasional di sini. Restoran cepat saji semacam McDonalds, disini bernama Quick. Menyajikan Hamburger Halal dan kentang. Kendararaan di negara ini di dominasi oleh merek dari Perancis sepeti Renault, Citroen dan Peugeot. Jarang sekali aku melihat ada mobil asia seperti Toyota dan KIA. Hanya segelintir yang bersliweran dijalanan.

Budaya di negara ini sungguh mengherankan. Lelaki di negara ini sungguh-sungguh senang mengobrol. Mereka mengobrol di jalanan, di trotoar, di depan toko, di restoran dan paling ramai di warung kopi. Ya, mereka sangat senang duduk dan mengobrol sambil menyeruput segelas kecil kopi. Menurut informasi rekan kerjaku yang sudah menghabiskan waktu satu tahun di Algeria, orang-orang ini bisa menghabiskan waktu seharian di warung kopi hanya dengan segelas kecil kopi. Entah apa pekerjaan mereka sehari-hari, tapi mereka tampak selalu mengobrol sepanjang hari. Apa di Algeria mereka di bayar dengan hanya mengobrol, aku tak tahu.

Makanan pokok di negara ini adalah Roti. Terlihat jelas dari banyaknya perkebunan gandum yang terlihat sepanjang perjalanan ke Ain Bouzaine ke El Arrouch. Peradaban Perancis terlihat dari roti-rotinya, roti-roti panjang yang biasa digunakan untuk membuat Bruchetta. Daging yang biasa di perjual belikan bukan hanya daging domba. Kebanyakan domba diternakan hanya untuk diambil bulunya dan dijual di pasar, di El Arrouch. Daging yang terakhir kemarin kunikmati di kantin adalah daging Keledai. Tak beda jauh dari daging sapi, hanya tak terlalu manis. Aku belum sempat merasakan makanan tradisional di El Arrouch, agak sulit untuk berkomunikasi di negara ini.

Sangat mudah untuk berkomunikasi ketika aku ke Sri Lanka, tapi kali ini aku mendapat permasalahan dengan budaya. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Inggris dan bahasa Arab. Sejauh ini aku baru bisa menyebutkan ‘Merci’ dan ‘Bon Apetit’, setelah seorang pramuniaga di Quick menyebutkan dua kata itu di Air port. Plus sebuah kata yang aku tak tahu penulisannya, ‘komyang’, temanku mengajarkan kata itu unutk memulai suatu proses jual beli. Kata temanku, artinya ‘berapa’ dalam bahasa Indonesia. Aku tak terlalu yakin itu bahasa Perancis.

=To Be Continued=

Advertisements

Lembur Malam Proyek Algeria

Jam udah nunjukkin pukul 02.40, dan gue sama dua orang gue masih ada di kantor buat lembur nyiapin data orang-orang baru untuk proyek di Algeria. Harusnya sih nggak sampe se pagi ini gue lemburnya. Tapi berhubung Boss gue yang satu perguruan sama gue, “White Lies And The Spoof Company”, terlanjur boong sama the very big boss from Japan si Mr. Aoyama, gue jadi ketiban pulung buat: “Nyelesain semua pekerjaan, in all cost…!!”

ABCD0009Dokumen-dokumen yang memang sengaja di tebar di sembarang tempat di lantai ruangan gue bikin pemandangan jadi semakin nggak sedap dipandang mata. Yang sehari-harinya berantakan, jadi semakin berantakan. Ada banyak kendala dalam nyiapin data-data pekerja yang bakal di kirim ke Algeria. Kelihatannya simple memang. Ada paspor, ada data. Karena dari Paspor ini semua bersumber.

ABCD0008

Tapi dengan banyaknya kelengkapan lain harus disiapkan, butuh sekitar 3 jam untuk nyiapin data mentah yang kemudian harus diolah jadi data digital. Nggak mungkin kan gue kirim pekerjaan urgent pake TIKI.

Mana yang bakal nerima kerjaan gue itu orang Jepang yang konon bentuknya nggak jauh beda dari Doraemon. Tapi versi killer-nya.

 

Tapi cukup banyak hiburan di setiap lembur malam hari gue. Ada banyak game di Facebook yang bisa dimainin (ini juga nih yang bikin kerjaan gue molor mulu kalo nggak diawasin), temen chatting yang kalo udah jam malem bebas ngomongin 21+, musik Timlo and Warkop yang gokil abis dan tentunya, makanan yang berbeda-beda.

ABCD0007Lembur kali ini gue dan salah satu teman abadi gue Danny milih salah satu makanan  yahudi kesukaan kita berdua, McD. 14045 terbukti adalah pilihan yang tepat waktu laper dan males keluar. Kita berdua pesan Gourmet Wrap ditambah kentang dan Coca-Cola. Walaupun keliatannya sedikit, gabungan roti di Gourmet dan kentang cukup nahan lapar gue sampai gue nulis artikel ini (jam tangan gue nunjuk jam 03.05).

Team gue yang kali ini terjun di peperangan lembur kali ini:

ABCD0020

ABCD0018 

ABCD0017