The “Wave” We’ve Been Waiting For


[SPOILER ALERT]

This blog post contains spoiler from the 5th Supernova series, Gelombang. Read at your own risk!

Beruntung adalah kata yang tepat untung menggambarkan perasaan saya ketika mendapati paket yang berisikan buku seri ke-lima dari novel legendaris karya Dewi Lestari, Supernova: Gelombang. Berkat aksi cepat tangap Istri saya dengan ikut dalam program pre-order (makasih sayang… xoxo), kami berkesempatan menjadi bagian dari 2014 orang yang mendapat satu copy buku Gelombang dengan tanda tangan sang penulis.

Supernova Gelombang. Buku ke 1478 / 2014

Supernova: Gelombang adalah buku ke-lima dari saga Supernova yang dimulai sejak tahun 2000 silam. Diawali dengan Supernova: Putri, Ksatria Dan Bintang Jatuh yang menurut saya agak kontroversial saat itu, dan dilanjutkan dengan Supernova: Akar yang membuat saya mendengarkan The Alan Parsons Project – Eye in the Sky. Buku ke-tiga adalah favorit saya, Supernova: Petir dengan Etra yang menjadi tokoh utama sebagai Manusia Milenium. Buku ke-empat adalah Supernova: Partikel, yang merupakan satu-satunya Supernova yang hanya saya baca satu kali.

Putri Ksatria dan Bintang Jatuh, Akar, Petir serta Partikel tentunya menyisakan tanda tanya besar bagi para pecinta Supernova. Kemanakah Diva? Ada apa di Rio Tambopata? Bagaimana nasib Gio? Bagaimana Etra bisa terkait dengan Bodhi? Siapakah mereka, manusia super yang tahan setrum dan bisa melayang ini? Apakah Zarah menemukan jejak UFO dan bergabung dalam Interstellar menembus Bima Sakti? Siapakah Alfa? Seperti anak saya yang masih belum bisa bicara, semua terujar masih menjadi teka-teki. Gelombang membawa  kita perlahan membuka semua misteri yang selama 14 tahun ini seolah menyelimuti bumi. Supernova kali ini bercerita tentang seorang Katabkana (kalau sering naik angkot daerah Depok, pasti paham) yang akan berpetualang dari Sianjur Mula-Mula menuju Jakarta hingga ke New York untuk akhirnya menemukan jawaban atas segala pertanyaannya di Lasha, Tibet. Gelombang akan sedikit membuka tabir mengenai Supernova secara keseluruhan, walaupun saya masih belum bisa menyimpulkan secara keseluruhan, yang pasti, ada 6 orang “manusia” yang memiliki kelebihan dari homosapien lainnya dimana pada akhirnya, mereka semua akan bertemu. Alfa adalah karakter paling non-human setelah Bodhi dan Kell yang muncul di seri Supernova (terlepas dari kemampuan Etra yang bisa nyetrum).

Gelombang menceritakan tentang seorang Alfa Sagala, yang akrab dipanggil Ichon. Thomas Alfa Edison Sagala (Edison = Ichon) adalah seorang anak dari Sianjur Mula-Mula yang dipercaya sebagai asal muasal orang Batak. Mimpi buruknya yang muncul sejak usia nya 8 tahun, menyeretnya pindah ke Jakarta. Desakan ekonomi dan keingintahuannya yang besar mendorongnya untuk menjadi imigran gelap ke Amerika Serikat. Bermula dari Hoboken, New Jersey, Alfa Sagala berhasil mewujudkan mimpinya mendapatkan beasiswa penuh di Cornell University. Bekerja di sebuah firma di Wall Street mengantarkannya untuk bertemu dengan seorang Ishtar Summer yang membuka jalan ke petualangan di alam mimpi guna menjawab misteri mahluk hitam bersayap yang selalu menghantuinya.

Tapi jangan berharap Gelombang akan begitu saja membuka selimut yang menyelubungi Supernova selama 14 tahun ini. Gelombang akan menyisakan remah roti yang akan menuntun kita pada petualangan berikutnya, Intelegensi Embun Pagi. Apakah interaksi antara Alfa dengan Kell pada akhirnya akan mempertemukannya dengan Bodhi? Kemanakah Diva? Akankah Gio bertemu dengannya kembali?

Jika dinilai dari skala 1 – 10 untuk tingkat kesulitan memahami Supernova yang satu ini, Gelombang mendapat nilai 5 dari saya (PKDBJ 9 dan Petir 2). Gelombang terbilang mudah untuk dipahami. Menyelesaikan 500 lebih halaman  bisa saya selesaikan dalam kurang dari 48 jam. Bagi mereka yang belum pernah membaca seri Supernova lainnya, mungkin akan sedikit bertanya-tanya pada kepingan awal dan menjelang akhir kepingan terakhir pada Gelombang. Namun selebihnya, Gelombang sangat bersahabat dengan pembaca baru seri Supernova.

Nilai 7 saya berikan untuk cerita secara keseluruhan (Akar 9 dan Partikel 5). Sulit untuk menebak cerita pada Gelombang secara keseluruhan, walaupun beberapa adegan di Tibet sangat mudah ditebak. Karakter Alfa yang superior, agak turn-off untuk saya pribadi. TInggi, kulit sawo matang, jenius dan punya malaikat pelindung yang melindunginya setiap kali ada bahaya. Yang paling disayangkan adalah muncul nya karakter Nicky yang rasanya sangat cliché dan sangat mengingatkan saya pada sosok Paul di Partikel. Witing tresno jalaran soko kulino. Gelombang seolah menjawab kritik saya pada Partikel 2 tahun yang lalu. Riset yang mendalam dan seolah sangat personal membuat kisah Alfa Sinaga sangat hidup. Gelombang menyuguhkan detil penceritaan yang sangat berbeda dari Partikel. Ketika Partikel seolah menjadikan detil sebagai pemanis belaka, Gelombang menyampaikan detil cerita sebagai justru pelengkap, tanpanya Alfa Sinaga tak akan “hidup”. Dewi berhasil menggabungkan kenyataan dengan fiksi karangannya, sedikit mengingatkan saya pada manisnya Akar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s