Sushi Artis Bukan Berarti Fantastis


I love Sushi. Especially the Nigiri Salmon. Jika ada kesempatan dan rejeki, saya ditemani istri akan menyempatkan diri mencicipi sushi untuk makan siang atau malam. Memang belum banyak restoran sushi yang kami coba di Jabodetabek, tapi tentunya kami akan berkembang. Dan hari ini untuk pertama kalinya kami mencoba restoran sushi pinggir jalan di Margonda, Sushi Miya8i. Menurut kakak saya yang sudah beberapa kali makan diresto tersebut, Sushi Miya8i layak untuk dicoba.

23979_largePhoto: doc. Okezone

Mulai dari pertama memasuki restoran tersebut, entah mengapa saya merasa kurang nyaman. Tata letak meja yang terlalu padat, warna merah yang menyala dan cahaya terang dari luar (kebetulan saat itu tengah hari saat matahari membelah diri) yang agak silau, entahlah, tetapi saya merasa kurang nyaman. Saya paksakan untuk mencoba dan memesan 4 jenis sushi, termasuk Nigiri Salmon kesukaan saya. Untuk soal kecepatan penyediaan makanan, sepertinya memang Sushi Miya8i tiada dua. Restoran ini buat saya memegang rekor penyajian sushi tercepat dalam pengalaman saya makan sushi. Kurang dari 5 menit, semua pesanan saya sudah served. Mengingat biasanya saya harus menunggu 10-15 menit hingga pesanan saya datang di restoran lain. Awalnya saya senang, tapi kemudian saya sadar, cepat menyajikan adalah kekurangan.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini daftar hal yang mengecewakan saat menyantap sushi di Sushi Miya8i cabang Depok:

Wasabi Yang Tidak Fresh
Salah satu hal yang paling menarik dari menikmati sushi, menurut saya, adalah menikmatinya dengan wasabi yang rasanya hingga menusuk ubun-ubun kepala. Sayang sekali, wasabi yang hari ini saya nikmati di Sushi Miya8i adalah wasabi yang sepertinya sudah lama terekspose udara. Warnanya pekat dan sama sekali tak terasa seperti wasabi pada umumnya. Saya pikir mungkin karena mereka baru saja buka setelah beberapa hari sebelumnya libur lebaran. Tapi jika memang begitu, kenapa saat dua hari yang lalu ketika saya dan istri makan siang di Takarajima, wasabi yang mereka sediakan sama seperti wasabi yang biasa saya makan. Hmm, apa mungkin kebetulan saya kurang beruntung saat di Sushi Miya8i?

Nasi yang Kurang Pulen dan ‘Dingin’
Less is more in food serve. But for Sushi, IMHO, More is More. Seperti yang saya sebutkan diatas, Sushi Miya8i cabang depok ini menyajikan Sushi dengan sangat cepat. Entah karena ada banyak chef yang bekerja di dapur, atau karena sebelumnya mereka sudah menyiapkan nasi dan potongan-potongan daging ikan sebelum pesanan datang. Karena jika jawabannya adalah pilihan kedua, maka wajar jika mereka bisa menyajikan 4 pesanan saya dengan sangat cepat. Dan sangat wajar jika nasi yang mereka sajikan tak lagi segar. Saya agak sulit untuk menggambarkan rasa ‘dingin’ yang saya dan istri saya rasakan saat menyantap Nigiri Salmon dan Gunkan Chuuka Idako. Biasanya nasi yang disajikan di restoran Sushi terasa manis, tapi ini tidak. Nasinya terasa hambar dan kurang lengket.

Bad Ambience
Ya, perasaan ini yang saya rasakan sejak pertama kali masuk ke Sushi Miya8i. Berisik, warna yang terlalu mencolok, dan pencahayaan yang buruk dengan membiarkan matahari menjadi sumber pencahayaan utama di lantai pertama. Dalam hal pengaturan desain interior ruangan di Sushi Miya8i, kualitasnya sama dengan FTV yang disutradarai oleh salah satu pemiliknya, crappy.

Rasa Yang Terlalu Biasa
Inilah yang paling saya sesalkan. The taste isn’t worth the price. Gunkan Chuuka Idako di Sushi Miya8i lebih mahal Rp. 2000 dari Takarajima Sushi, tetapi dengan rasa dan kualitas penyajian yang lebih rendah. Dan seperti yang saya keluhkan diatas, nasi yang ‘dingin’ berpengaruh pada rasa sushi keseluruhan. Saya bahkan tak bisa merasakan rasa amis dimulut saya saat melangkah keluar dari restoran tersebut. What a waste of money.

Pengaturan Yang Buruk
Meja tempat kami makan mungkin hanya berukuran sekitar 60 x 70 cm, ditengah-tengahnya ada 4 buah botol kecil yang memakan space sekitar 10 x 15 cm dari luas meja tersebut. Kemudian, datang 2 buah gelas Ocha yang kira-kira menghabiskan space 5 x 5 cm x 2. Dan terakhir 3 buah piring lebar berukuran 15 x 20 cm. Why in the world they not serve my sushi in a small plate?? 2 Gunkan Chuuka Idako dan 2 Nigiri Salmon dalam piring berukuran 10 x 15 cm. What a waste of space! Saya cukup kesulitan menikmati makanan di meja yang sempit tersebut.

Secara keseluruhan, tak ada nilai lebih yang bisa membuat saya untuk kembali menikmati sushi di Sushi Miya8i. Kualitas yang menurut saya tak sesuai dengan harga membuat saya mencoret dari daftar kuliner saya sampai kapanpun. Saya dan istri saya memutuskan untuk tidak akan kembali ke Sushi Miya8i cabang Depok, atau mungkin cabang manapun itu.
Dan untuk harga yang jauh melampaui kualitas, saya berikan dua dari lima bintang untuk Susi Miya8i.

two out of five stars

And that’s from me. How about you guys?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s