Ironi Itu Datangnya Dari…


Foto: Dok. Antara Sumbar

Actually, I ‘m not in my place to tell you guys about what I’m gonna tell to you in this article. But I can’t help it. Sebagian dari diri saya mengatakan, sudah seharusnya saya menulis tentang perihal ini, sehingga orang lain bisa mengerti keadaannya. Yang akan saya ceritakan disini berkaitan dengan buruknya penyediaan sarana pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Dan entah mengapa, saya merasa turut ambil bagian dalam sistem tersebut.

Saya lulusan Teknik Sipil dari Politeknik Negeri Jakarta, tahun 2007 saya lulus, dan beberapa bulan kemudian bekerja di sebuah kontraktor kecil di pinggiran Jakarta. Baru beberapa tahun ini, kantor saya mulai menerima pekerjaan dari pemerintah, istilahnya, pekerjaan dari Pemda. Baru-baru ini kantor saya mendapat pekerjaan dari sebuah departemen untuk memperbaiki ruang kelas yang sudah uzur usianya. Genteng yang masih dari asbes sejak tahun 80an harus diganti dengan genteng tanah liat yang lebih baik mutunya dan tidak berpotensi mengganggu kesehatan para siswa. Kusen jendela dan pintu yang mulai lapuk harus diganti dengan kusen dari Aluminum yang lebih awet dan bebas dari kelapukan. Berikut juga dengan beberapa bagian dari 2 ruang kelas yang harus saya perbaiki.

 

Total biaya yang dikeluarkan oleh Departemen tersebut adalah Rp. 115,000,000. Dimana 10% dari total tersebut adalah pajak yang harus kantor saya bayarkan. Jadi, harga pekerjaan sesungguhnya sekitar Rp 104,000,000. Dan dari total tersebut, saya harus menyisihkan 15% dari total anggaran tersebut, untuk nantinya diberikan kepada pihak panitia dari Depertemen tersebut. Saya juga harus menyiapkan dana sebesar kurang lebih Rp 19,000,000 untuk proses tender mendapatkan pekerjaan itu. Nilai uang 19 juta tersebut digunakan untuk ‘menyewa’ perusahaan lain agar saya tidak punya saingan dalam tender tersebut. Jika tidak, kemungkinan terganjal dan kehilangan proyek tersebut akan semakin tinggi. Karena dalam proses tender yang sudah diatur sekalipun, kadang kala satu perusahaan yang sudah diatur untuk menang, bisa kalah oleh perusahaan lain.

Nah, jika matematika saya cukup bagus saat kuliah dulu, total biaya yang ada untuk proses rehab ruang kelas tersebut tinggal Rp. 69,400,000 saja. Mari saya jabarkan secara sederhana kebutuhan untuk proses rehab 2 ruang kelas berukuran 7 x 8 meter;

      • Genteng                    :     17,5m x 13,1m x 20 x Rp. 3000 = Rp. 13,755,000
      • Kaso & Reng             :     Rp 7,500,000
      • Plafond GRC             :     7m x 8m x 2 x Rp. 75,000 = Rp. 8,400,000
      • Kusen Aluminium   :     Rp 18,500,000
      • Bata & Semen          :     Rp. 1,200,000
      • Cat Tembok             :     Rp. 850,000
      • Mandor & Tukang   :     Rp. 13,000,000
      • Operasional             :     Rp 2,500,000

Total keseluruhan dari kebutuhan biaya diatas adalah Rp. 65,705,000. Sisanya adalah keuntungan dari kantor yang mengerjakan pekerjaan tersebut. Kira-kira Rp. 3,695,000. Itupun jika tak ada pengeluaran lain yang harus saya keluarkan. Maka, jika anda bertanya-tanya, mengapa diseluruh Indonesia, terutama didaerah-daerah tertinggal atau jauh dari pusat pemerintahan, sarana pendidikan yang pemerintah sediakan sangatlah minim, inilah salah satu penyebabnya.

Lalu bagaimana kontrak bisa mendapatkan keuntungan dengan anggaran yang sangat minim tersebut? Biasanya, mereka (termasuk juga saya), akan mengurangi kualitas dari bahan yang digunakan. Seperti jika sedang mengecor jalan raya, dimana seharusnya ketebalan yang disyaratkan adalah 15 cm, dalam pelaksanaan hanya 10-12 cm saja. 3 cm dikalikan misal 200 m dengan lebar jalan 5 m, sudah menghemat 30 meter kubik beton. Begitu juga halnya didalam pengerjaan bangunan sekolah. Kontraktor harus pandai dalam mengakali situasi agar tidak merugi. Salah siapa? Kami sebagai pelaksana? Atau pemerintah sebagai panitia?

Saya selalu percaya bahwa pemerintah selalu menganggarkan biaya-biaya perbaikan sarana pendidikan didaerah-daerah mereka didalam RAPBD. Ruang kelas yang rusak, atap yang bocor, lapangan yang becek tiap kali hujan turun, meja bangku yang kondisinya memprihatinkan, dan lain sebagainya. Mengapa? Karena sudah semestinya begitu. Tapi, apakah ada kontraktor atau pelaksana yang berminat mengambil pekerjaan yang tidak memberikan keuntungan bagi mereka? Saya masih beruntung, pekerjaan yang saya kerjakan ada ditengah kota. Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah? Yang biaya mobilisasi dan demobilisasinya bisa lebih mahal dari keuntungan yang bisa mereka peroleh.

Jadi janganlah heran jika sampai saat ini, masih banyak sarana dan penunjang pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan kondisinya. Korupsi, anggaran pas-pasan, dan kurangnya niat pemerintah untuk sungguh-sungguh memperbaiki kualitas pendidikan generasi muda di Indonesia lah menurut saya yang menjadikan pendidikan di Indonesia tak merata kualitasnya. Dan yang lebih menyedihkan lagi buat saya pribadi, saya merasa ambil bagian didalam sistem tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s