Modus Anomali: Saat Joko Anwar Memanjakan Penonton


Pertama kali membaca “Modus Anomali” di tweet Joko Anwar, saya berfikir ini adalah judul pementasan teater yang disutradarai oleh yang bersangkutan. Sampai kemudian saya baru mengetahui bahwa judul tersebut adalah judul film terbaru besutan utradara eksentrik tersebut. Minggu kemarin saat penayangan perdana, saya tak sempat menonton film tersebut karena sedang disibukan oleh pekerjaan. Senin malam kemarin, akhirnya saya dan istri menyempatkan diri menonton film ini.

Modus Anomali

Film ini diawali dengan John (diperankan oleh Rio Dewanto), yang tiba-tiba terbangun dari kubur. Nampak dalam adegan awal tersebut, ia dikubur hidup-hidup oleh seseorang.

Saat ia mencoba untuk meminta bantuan dengan menelpon nomor emergency di tengah hutan belantara (ya, ada sinyal full bar di tengah hutan belantara), John mengalami amnesia. Tiba-tiba dia melupakan siapa dirinya sebenarnya. Saat ia memeriksa dompet, ia menemukan tanda pengenal dengan foto dirinya yang bernamakan John. Setelah berjalan beberapa lama, ia menemukan sebuah pondok yang ditinggalkan didalamnya ada mayat seorang wanita yang tengah hamil dengan isi perut terburai. Di pondok tersebut, John menemukan sebuah video yang menggambarkan bagaimana wanita yang adalah istrinya tersebut, dibunuh oleh seseorang yang mengenakan Scrubs berwarna hijau.

Adegan demi adegan yang penuh ketegangan dimulai di tengah hutan yang gelap gulita. John yang masih kebingungan dengan keberadaannya ditengah hutan tersebut menemukan sebuah pondok kecil yang dijadikan gudang, disana ia mendegar suara langkah kaki seseorang, dan bersembunyi didalam sebuah peti yang kemudian dibakar oleh sosok misterius tersebut. John berhasil melarikan diri dengan menendang bagian samping peti tersebut. John yang mengetahui dia memiliki 2 orang anak, berusaha untuk menemukan mereka sebelum sosok misterius yang membunuh istrinya tersebut, menemukan mereka. Namun tanpa disengaja, justru John membunuh kedua anaknya tersebut dengan sadis. Si gadis terkena jebakan yang dibuat olehnya, dan sang anak lelaki tewas hampir terpenggal karena mengagetkan John dari belakang.

John yang hampir putus asa setelah kehilangan seluruh keluarganya, tiba-tiba menemukan mayat keempat setelah mendengar bunyi alarm dari dalam tanah. Di tubuh mayat pria itu ada tulisan “Go Back To Beginning.”. John pun kembali ke awal mula tempat dia bangun dari kuburnya. Disana ia menggali lebih dalam dan menemukan sebuah kotak kecil yang bertuliskan, “The Truth”. Didalam kotak tersebut terdapat 2 buah alat suntik. Tanpa berfikir panjang, John menyuntikan cairan yang ada didalam alat suntik tersebut, dan menggelepar kesakitan selama beberapa detik, hingga akhirnya terjatuh kedalam lubang yang ia gali sebelumnya. Saat ia terbangun kembali, raut muka John berubah 180 derajat. Dari sosok yang ketakutan, ia berubah menjadi dingin. Ia pun berjalan menjauhi kuburan yang ia buat, dan menghampiri sebuah mobil yang ia sembunyikan.

Sampai disitu, saya sangat senang. Saya mengira tebakan saya tepat, bahwa John mengidap semacam Paranoid Schizophrenia atau semacam penyakit kejiwaan yang diidapnya karena trauma kehilangan anak dan istrinya. Sehingga membuatnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Tapi saat muncul tokoh yang diperankan oleh Surya Saputra, Marsha Timothy dan 2 orang anak lelakinya, sayapun kecewa. Disitu Joko Anwar menjelaskan secara gamblang dan detil tentang apa yang dilakukan oleh si John. Joko menceritakan justru bagian paling unik yang seharusnya dibiarkan menjadi misteri cerita tersebut. Alasan yang dipilih oleh Joko, mengapa John menjadi pembunuh, menurut saya menjadi kurang masuk akal dan absurd. John menjadi pembunuh keluarga-keluarga yang sedang liburan di remote area karena ingin mendapatkan sensasi petualangan yang menegangkan dengan menyuntikan obat yang membuatnya kehilangan ingatan secara temporal, dan membuatnya mengira ia adalah ayah dari keluarga yang hendak dibantainya. Buat saya, semua itu sangat mengganjal.

Belum lagi akting Rio yang menurut saya tanggung. Banyak detil yang agak mengganggu terutama kenyataan bahwa pronunciations English-nya buruk sekali. Satu –satunya yang paling jelas ia ucapkan hanyalah Fuck dan Mother-Fucker, sisanya absurd. Cast lain juga kurang mendukung aktingnya. Marsha Timothy kurang bisa menunjukan akting saat seseorang tengah digorok tenggorokannya. Ia, bagaimana saya mengatakannya, terlalu cepat mati, dan kurang terlihat ketakutan. Kemudian tokoh anak kecil yang lehernya hampir terpenggal oleh Rio, juga terlalu datar. Selain tangisan yang justru seperti suara anak anjing, Ia tidak bisa menunjukan akting ketakutan karena keluarganya tengah dibantai. Detil cerita yang rancu juga agak mengganggu saya. Saat John pertama kali menemukan mayat wanita di pondok, yang disangka adalah istrinya, dia tiba-tiba saja merasa yakin sepenuhnya bahwa itu adalah tubuh istrinya. Ia menangis dan meminta maaf tak dapat melindungi mereka. Padahal beberapa saat sebelumnya, dia baru saja lupa ingatan, bahkan namanya sendiri pun dia tidak ingat. Seharusnya si John kebingungan terlebih dahulu, bukannya langsung sedih dan yakin bahwa mayat wanita tersebut adalah istrinya. Yang lucu juga, saat John terkena anak panah di lengan kirinya. Di berteriak-teriak kesetanan berusaha mencabut anak panah tersebut. Anehnya, tak ada satupun dari kedua anak itu yang berusaha mendekati John dan menghabisinya.

Joko di film ini menurut saya terlalu memanjakan para penikmat film Indonesia. Dia memilih untuk memberikan penjelasan secara detil tentang John dan apa yang dilakukannya di tengah hutan ketimbang membiarkan para penikmat filmnya menebak-nebak dan berimajinasi sendiri. Buat saya pribadi, saya kecewa, karena ekspektasi saya, Joko akan benar-benar membuat cerita ini mengambang. Tapi terlepas dari seluruh kekurangan dalam film ini, Joko menghadirkan film yang menurut saya benar-benar fresh di koleksi perfilman Indonesia. Modus Anomali memberikan ketegangan seperti yang dijanjikan posternya. Untuk film layak tonton ini, saya berikan nilai 6.8 karena kentang. Sorry but thanks Jok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s