Colombo Trip – Part One


Pukul 18.05 waktu Jakarta saya bertolak ke Kuala Lumpur, untuk nantinya berganti pesawat dan melanjutkan perjalanan ke Colombo Sri Lanka. Di Colombo, ada pekerjaan besar yang telah saya tunggu selama dua tahun yang menanti untuk segera diselesaikan. Dengan menggunakan pesawat Malaysia Airlines, flight MH 722, saya meninggalkan tanah air untuk 5 hari kedepan. Sekitar 3 jam kemudian saya dan beberapa rekan sampai di Kuala Lumpur International Airport. Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah melayu tersebut. Pertama kali pula saya menaiki Aero Train. Seharusnya Jakarta (ya, Jakarta, bukan di Soekarno-Hatta) memiliki alat transportasi semacam ini.

Sekitar satu setengah jam lamanya saya transit di KLIA untuk melanjutkan perjalanan ke Colombo. Disana, booth free internet tidak lagi menggunakan komputer, tapi sudha menggunakan tablet seperti iPad dan Galaxy Tab. Koneksinya menggunakan broadband gratis yang lumayan cepat. Saat saya berseluncur menggunanakan laptop milik rekan saya, kecepatan yang saya rasakan masih lebih lambat dari koneksi di bandara Changi, Singapore. Pukul 21.15 waktu Kuala Lumpur, saya pun boarding dan segera melanjutkan penerbangan ke Colombo menggunakan Boeing 737 milik maskapai yang sama, Malaysia Airlines. Dengan harga yang tidak jauh berbeda untuk perjalanan ke Sri Lanka, pengalaman saya mengatakan lebih menyenangkan menggunakan Singapore Airlines dibandingan menggunakan Malaysia Airlines. Singapore Airlines menggunakan pesawat yang lebih besar dan menyediakan hiburan disetiap kursi di kabinnya. 6 jam penerbangan menggunakan Malaysia Airlines, hiburan saya satu-satunya hanyalah tidur.

Pukul 00.05 waktu Colombo, sekitar pukul 1.30 waktu Indonesia Barat, saya akhirnya tiba juga di Bandara International Colombo. Terakhir saya ke Colombo pada 29 November 2008, dan ternyata sudah banyak yang berubah. Dahulu, tidak ada biaya visa on arrival. Sekarang dipungut biaya sebesar US$ 25 / orang untuk biaya VOA. Setelah selesai mengambil bagasi 39 menit kemudian, saya menyempatkan diri ke counter Etisalat untuk membeli pre-paid card untuk melancarkan telekomunikasi. Harga sebuah sim card kosong adalah Rs 200, ditambah biaya aktivasi Blackberry sebesar Rs 400 dan pulsa untuk internet broadband telepon dan sms sebesar Rs 300, saya sendiri sudah menghabiskan Rs 900 diawal kedatangan saya kali ini. 1 Rupee sekitar Rp 70, jadi total biaya untuk melancarkan komunikasi saya adalah Rp 63,000. Biaya untuk paket Blackberry menggunakan etisalat ini tergolong sangat murah, hanya Rp 28,000 untuk penggunaan satu bulan. Bandingkan dengan harga di Indonesia!

Kemudian saya harus menumpuh perjalanan darat menggunakan mobil selama kurang lebih 45 menit menuju pusat kota, tepatnya di Hotel Galadari. Disini, harga hotel permalamnya sekitar US$ 180 untuk kamar twin bed, tanpa ada koneksi internet. TAK ADA WI-FI DI HOTEL INI!! Bahkan untuk menulis artikel ini, saya harus menggunakan koneksi internet broadband menggunakan laptop rekan saya. Saya rasa cukup sekian cerita perjalanan saya sampai saat ini, pada tulisan berikutnya akan saya ulas lebih jauh tentang pengalaman kuliner di negara ini berikut dengan foto-fotonya. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s