Partikel: Penantian Yang Terapung


Delapan tahun lamanya saya menunggu Dewi Lestari keluar dari gua kelelawarnya. Menanti beliau menyelesaikan tapa brata nya. Berharap Zarah segera lahir kedunia. Hingga pada akhirnya, penantian tersebut usai sudah.
Pada tanggal 13 April 2012, yang saya tandai sebagai salah satu hari bersejarah, dimana buku yang paling saya tunggu-tunggu, akhirnya terbit jua. Supernova: Partikel akhirnya diterbitkan pada tanggal tersebut, serentak di seluruh toko-toko buku pada pukul 4:44 (Saya yakin sekali, jika Etra benar-benar ada, ia pasti enggan membeli buku ini. Jam peluncurannya ngga hoki).

2004 saya dikejutkan dengan Petir yang diluar ekspektasi saya. Semua kompleksitas pada Putri Ksatria Dan Bintang Jatuh atau pencarian jati diri yang rumit yang ada pada Akar, hilang. Petir adalah Supernova yang paling, hmm, bagaimana saya menggambarkannya… Lucu. Sosok Etra dan Mpret yang menurut saya ajaib dan petualangan manusia millenium yang bisa nyetrum memberikan hiburan yang tiada duanya. Petir adalah inspirasi. Saya mulai menulis  cerpen karena terlampau sering membaca ulang Supernova. Saya kagum dengan sosok seperti Mpret yang bisa hidup bebas. Bergerak seperti angin, bebas, tapi memberi arti. Saya jatuh cinta pada sosok Etra. Gadis yang kelebihan muatan elektron ini mampu menyetrum imajinasi saya selama bertahun-tahun. Bagaimana kiranya saat Etra dan Bodhi bertemu, menjadi tanda tanya yang paling saya tunggu jawabannya.

Kemudian kepingan baru terlahir. Zarah. Anak dari Faris dan Aisyah, gadis jenius yang dibesarkan oleh sosok Ayah dan alam. Diajarkan untuk jatuh cinta pada Fungi. Dan tumbuh menjadi ibu angkat seekor orangutan bernama Sarah. Ia adalah babak baru dalam Supernoverse, dunia Supernova yang diciptakan oleh Dewi Lestari (Saya yakin Bumi tempat Dimas, Ruben, Bodhi, Etra dan Zarah berada di alternate universe).

Setelah selesai membaca Partikel, saya kemudian berfikir, “Koq cuma begini ya?” Saya sempat terdiam beberapa saat, memikirkan mengapa Partikel terlalu mudah. Bahkan jauh lebih mudah daripada Petir. Partikel terlalu mudah untuk ditebak alur ceritanya. Saat Zarah bersahabat dengan Koso, saya dengan mudah menebak nantinya Koso akan meninggalkan Zarah, dan mereka akn bertemu kembali saat dewasa. Saat Zarah menjalin hubungan dengan Storm, dan bertemu kembali dengan Koso, dengan mudah saya menebak nantinya akan ada hubungan antara Storm dengan Koso. Dan semua tebakan saya benar. Bahkan saat pertama kali sosok Paul muncul, saat manusia cro-magnon itu di deskripsikan, saya berfikir “Terlalu mudah!”. Sosok Zarah nantinya pasti akan jatuh hati pada Paul, dan Paul sudah lama memendam perasaan pada Zarah. Terlalu mudah. Bahkan saat memasuki cerita pertemuan Bodhi dan Etra, seolah keduanya kehilangan aroma mistis yang selalu mereka tampilkan pada buku-buku sebelumnya.

Ketidak sesuaian (dengan ekspektasi saya) adalah tokoh Paul yang terlalu mirip dengan Mpret. Tokoh Ibu Inga yang terlalu mirip dengan Ibu Sati. Dan kenapa harus Ayah? Kenapa semenjak Petir, harus ada hubungan khusus antara Ayah dengan anak wanitanya yang super-alien. See, bahkan tokoh utama kali ini mirip dengan tokoh utama sebelumnya, Zarah mirip dengan Etra. Tak ada karakter yang spesial, tak ada Manusia Millenium yang meninggalkan setruman yang mendalam, tak ada Kell, tak ada Isthar Summer, tak ada Diva. Seolah Partikel hanyalah Petir 2.0. Pesan moral yang hendak disampaikan pun terlalu jelas, jangan mudah percaya dengan sesama homo-sapiens dan jagalah bumi kita dari kerusakan yang kita buat.

Bukan berarti buku ini jelek dan tak layak baca. Bagus, hanya saja buku ini belum menjawab seluruh ekspektasi saya. Delapan tahun penantian, terjawab dalam delapan jam baca yang masih hampa. Partikel memang mungkin tidak ditujukan untuk menjawab semua pertanyaan yang ada semenjak semesta Supernoverse tercipta. Partikel hanya meninggalkan jejak pertanyaan baru. Dan semoga Gelombang menjawabnya dengan segera.

3 thoughts on “Partikel: Penantian Yang Terapung

  1. Olin says:

    Setuhu dengan review kamu. Sepertinya riset2 yang berlimpah itu tidak dijahit dengan narasi yang mulus. Serupa dengan pe-er yang dikebut semalam untuk sekedar menuntaskan kewajiban. Kecewa karena supernova-supernova sebelumnya selalu menjadi handbook-guide to our chaotic universe untuk saya. Salah satu yang jelas, partikel hanya mengembangkan 1-2 karakter secara lengkap sementara yang lain hadir sebagai figuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s