Kurator Dan Places Dalam Dilema


Dua minggu yang lalu, akun @kurator di Koprol mengumumkan informasi mengenai sistem aturan poin untuk user yang menjadi seorang Kurator di Koprol. Dalam penumumannya, akun Kurator menjelaskan mengenai pinalti poin dan cara mendapatkan poin kurator. Hal-hal yang dapat menyebabkan seorang Kurator kehilangan poinnya, seperti yang dijelaskan oleh Kurator, antara lain:

1.  Place they added gets rejected
2.  Rejects when other kurators approve, OR approves when others reject
3.  Place they added/approved is bogus/duplicate
4.  Report duplicate/closed/bogus gets rejected

Selain itu, Kurator juga menjelaskan hal-hal apa saja yang dapat menaikan poin seorang Kurator, antara lain:

1.  place they added gets approved
2.  Approves when other kurators approve OR rejects when others reject
3.  Report duplicate/closed/bogus gets approved

It’s a good things I guess, setelah sekian lama akhirnya (paling tidak) ada penjelasan yang lumayan jelas dari Kurator/Koprol mengenai fitur yang sangat sensitif ini. Mengapa saya katakan sangat sensitif?

Mungkin perlu ditilik dari awal sebelum fitur kurator digulirkan, ketika kita harus menunggu berhari-hari hingga berminggu-minggu hingga lokasi yang ingin kita tambahkan dalam database Koprol mendapat perhatian dari Admin. Saat itu semua user mendambakan Koprol, layaknya Foursquare, usernya dapat menambahkan lokasi, semudah membalikan tangan tanpa harus menunggu terlalu lama. Namun dilain pihak, para user-pun enggan jika pada akhirnya mereka harus mendapati places di Koprol akan dipenuhi non public places, seperti yang terjadi di Foursquare.

Sampai pada akhirnya, muncul fitur Kurator di Koprol. Kala itu, selected users only yang mendapat privilege untuk menggunakan fitur ini. Dan seiring berjalannya waktu, banyak perubahan dan penyempurnaan dalam fitur Kurator ini. Yang paling mencolok untuk saya adalah, penggunaan Yahoo! Geo Technologies dalam penambahan places di Koprol. Integrasi ini semakin mempermudah penambahan lokasi yang ada didalam data base Yahoo! Geo Technologies. Dan semenjak fitur Kurator ini ada, lokasi di Koprol semakin beragam.

Saya tak ingin berpanjang lebar dengan menjelaskan bagaimana tahapan fitur Kurator tersebut. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di laman Blog @sikodok DISINI (maaf Caps, sengaja). Saya lebih ingin mengupas sisi lain dari fitur Kurator ini. Saya masih ingat, tagline yang digunakan Koprol dulu sebelum di akuisisi oleh Yahoo, “Social city guide based on location.”, dimana saat itu, mostly user menggunakan Koprol tak hanya sebagai ajang berkomunikasi. Namun juga sebagai Yellow Pages dan panduan dalam memilih lokasi untuk hang out atau malam mingguan. Untungnya hal ini terbantu dengan adanya Featured Content dan Deals yang, oh wait, baru ada di laman web Koprol saja.

Kurator's Game

Namun, semenjak adanya fitur Kurator ini, saya merasakan perubahan yang sangat besar pada fungsi dari ‘lokasi’ ‘ di Koprol. Semakin jarang orang berkomentar, “Hey, lagi apa lo di Margo?" Sama siapa?” saat teman kita melihat lokasi check in kita di Margo City, Depok. Saya perhatikan, semakin banyaknya lokasi yang ‘unik’, users tak lagi terlalu memperhatikan lokasi check in mereka. Interaksi antar user-lah yang menjadi primadona.

Selain itu, semenjak dimunculkannya Top Kurator, para user seolah berlomba-lomba untuk menambahkan lokasi baru ke dalam database Koprol. Banyak bermunculan duplicates dengan lokasi sama, namun nama yang sedikit berbeda. Bogus dan fake location juga terkadang dapat ditemukan. Persoalan lain muncul saat syarat untuk menjadi seorang Kurator salah satu diantaranya adalah dengan me-Review banyak lokasi-lokasi. Review tak lagi menjadi ajang sharing informasi mengenai lokasi. Tak lagi menjadi sarana menginformasikan keunggulan atau kekurangan suatu lokasi. Terkadang review di ‘abuse’ demi memperlancar proses menjadi seorang Kurator.

Kurator kini layaknya sebuah permainan. Dengan poin dan reward (Top Kurator) yang membuat user Koprol seolah berlomba-lomba, tak hanya menjadi Kurator, namun berusaha untuk menggeser para Top Kurator yang sepertinya tak tergoyahkan dari singgasananya. Pola ini mirip dengan pergeseran fungsi dari Foursquare. Tak lagi menjadi media bersosial berbasis lokasi, tapi lebih seperti ajang adu perburuan medali (Badge).

Dalam point-poin yang saya jelaskan di awal, disebutkan bagaimana seseorang bisa mendapatkan poin untuk menjadi seorang Kurator, atau kehilangan posisinya sebagai Kurator. Formula perhitungannya dapat kita bayangkan dari poin-poin tersebut. Bayangkan saja… Hmm… Dan semakin saya membayangkan, saya semakin bingung. Bagaimana saya tahu sebentar lagi saya akan menjadi Kurator? Bagaimana saya bisa tahu, kapan sebentar lagi saya bisa menggeser si anu dari posisi Top Kurator? Atau bagaimana saya bisa tahu, ternyata lokasi yang saya approve kemarin itu ternyata duplicates atau bogus? Atau, atau, atau… Aiiish, this game isn’t complete yet!

Mengapa poin-poin tersebut tidak ditampilkan saja? Bukankah semakin terbuka akan semakin mudah? Apa karena belum ada formula yang tepat untuk dalam sistem poin tersebut? Kalau memang poin-poin tersebut masih belum jelas, mengapa ada Top Kurator ya? Dimana hanya dengan meng-approve sangat banyak lokasi lalu menjadi Top Kurator, tanpa memperdulikan apakah lokasi yang di approve tersebut duplicates atau bogus. 

Mengapa tidak ada fitur report Closed Place atau Bogus Place di Koprol? Bagaimana para user yang ingin melaporkan places yang sudah ditutup, atau lokasi yang ternyata hanyalah hoax ke admin Koprol jika tidak difasilitasi? Haruskah mereka mereview lokasi tersebut dengan jempol kebawah dan me-mention user yang membuat lokasi tersebut? Saya rasa itu cara yang tidak bijak, tapi ya mau bagaimana lagi kalau memang tidak ada cara yang lainnya.

Harapan saya untuk kedepannya, Koprol segera merilis fasilitas untuk reporting Bogus place atau Closed Place (Yang sepertinya dalam waktu dekat ini akan ditambahkan dalam fasilitas report seperti layaknya Report Duplicates). Semoga failitas ini diluncurkan lebih dulu sebelum fasilitas claim places/venue diluncurkan ada di Koprol (Sumpah bagian ini, gue sok tau banget). Perbaikan sistem Kurator saya rasa juga didambakan oleh banyak user yang semakin jengah dengan banyaknya places yang ngawur dan entah mengapa, sulit untuk ditertibkan.

Semoga saja apa yang saya tuliskan disini bisa menjadi masukan bagi Developer Team kedepannya. Dan mohon maaf soal judulnya, tidak ada dilema, saya saja yang lebay.

6 thoughts on “Kurator Dan Places Dalam Dilema

  1. kucingmales says:

    nice share :)
    setau saya pokantas Top Kurator udh ga ada (atau sengaja jarang dimunculin mungkin y?)
    sebagai user yg belum lama ngoprol, “review abuser” memang dirasa mengganggu bagi sebagian user. apakah itu efek dari pokantas Top Reviewer yg sebelumnya sempat ada tapi sekarang (mungkin) menghilang lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s