Watak Bangsa Indonesia


Pagi ini saya memulai hari dengan kebiasaan yang sama yang selalu saya lakukan setiap pagi, membuka handphone. Dan pagi ini saya dikejutkan dengan sebuah email pemberitahuan akan adanya sebuah komentar di Blog saya ini.

Well, sudah lama sekali sejak terakhir saya mendapat komentar ditulisan saya (apapun itu) karena saya sendiri sudah lama tidak menulis sesuatu di Blog saya ini. Dan karena email notifikasi komentar yang saya terima tersebut, saya terpancing untuk membuat tulisan ini.

Komentar tersebut ditulis di halaman blog saya yang membahas tentang sebuah film berjudul Underworld: Rise of The Lycan, sudah sangat lama saya menuliskan pendapat saya tentang film tersebut, sehari setelah film tersebut tayang di bioskop dan saya menontonnya. Film tersebut secara pribadi saya kategorikan sebagai a no no prequel of Underworld series, plot cerita yang (menurut saya) buruk dan perusakan nilai-nilai ke-vampir-an yang dilakukan oleh sang sutradara dan penulis cerita, memaksa saya untuk mengatakn bahwa film ini SUCKS, menjemukan.

Dan entah mengapa, ada seorang fans dari film ini yang membaca tulisan saya akan film ke-3 dari Underworld series ini, tiba-tiba memaki-maki saya lewat kolom komentar. Well, yah, saya cukup paham perasaan seorang fans yang tersakiti saat apa yang mereka yakini dinilai buruk oleh orang lain. Been there to know how it works. Lalu apa permasalahannya? Permasalahannya adalah soal sikap. Apakah sebegitu sulitnya bagi kita untuk bersikap lebih bijak pada suatu perbedaan? Hanya karena suatu pendapat yang berbeda, orang berhak menghujat orang lainnya seenak jidat dan dengkul mereka?

Contoh sepele yang saya rasakan ini sering kali saya lihat di kehidupan sehari-hari. Saat seseorang mengkritisi sesuatu hal, pihak yang kurang berkenan akan balas mengkritisi, namun dengan nada menghujat dan mengecam. Memangnya dimana letak kesalahan seseorang mengkritisi sesuatu hal yang menurut dia salah? Hanya karena memiliki pendapat yang berbeda, bukan berarti sang kritikus ini layak untuk di hujat. Bukannya seharusnya kita pelajari dulu, kritikan apa yang di sampaikan oleh sang kritikus, baru kita memberikan tanggapan balik.

Entah kenapa watak semacam ini seperti menjadi mendarah daging di masyarakat Indonesia. Kita (karena saya juga orang Indonesia) merasa apa yang kita lakukan itu adalah yang paling benar, paling absolut dan tak terbantahkan. Ketika kita di kritisi, kita merasa takut, apa yang kita yakini dan kita sampaikan ternyata adalah salah. Namun demi mengedepankan gengsi, kita memilih untuk menolak di kritisi. Hanya karena kita takut, kita benar atau salah. Pertanyaan besar yang kemudian muncul: “Kenapa bisa jadi begitu?”

Well, saya pribadi tidak mampu menjawab pertanyaan yang terlalu kompleks tersebut. Yang saya pahami dan saya percayai, bangsa ini tidak serta merta menjadi bangsa yang kasar dan gemar menjustifikasi seenak jidatnya. Ada banyak pemicu yang menjadikan kita seperti sekarang ini, apalagi jika tak ada filter yang yang mampu menahan watak buruk seperti itu.

Yah, ini hanya pendapat saya (yang mana saya hanyalah manusia biasa, amatir) semata. Tanpa bermaksud memojokan atau menjadi sok tau. Semua tulisan ini, hanya pandangan dan pendapat saya semata.

Terima kasih telah sudi membaca tulisan saya.

@astronotbumi

Posted from my AstronotBerry®

3 thoughts on “Watak Bangsa Indonesia

  1. bayudug says:

    Betul Om. Namun kita harus menyadari juga bahwa bangsa ini adalah bangsa yang dididik untuk tidak menerima kritik. Bangsa ini dididik untuk terus mengikuti kebiasaan lama. Makanya kita dijajah hampir 350 tahun oleh Belanda karena tidak mengkritik diri sendiri. Dan dijajah oleh kebodohan yang entah berapa lama, hingga menyadari bahwa kritik adalah suatu keadaan yang harus diterima dan dibutuhkan.

  2. pemikiran kita sama bung…. teman saya juga gitu… marhnya ngambek kalo dikritik, alhasil dia gak bisa berkembang…. sya cman bisa ketawa dalam hati aja liat orng yang spt itu….

  3. bangsa luar itu maju karena mereka itu “open source” alias menerima masukan dan terbuka kepada bangsa lain… lalu kita apa? lihat saja sendiri……………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s